Lansia dan Kehilangan Massa Tulang

Menurut data Bappenas (tahun 2000), usia harapan hidup penduduk Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 73,3 tahun. Seiring dengan tingginya usia harapan hidup, maka diperkirakan akan tinggi pula masalah kesehatan lansia di masa yang akan datang. Sementara itu, memiliki tubuh sehat di usia senja adalah harapan semua orang, meskipun diketahui bahwa pada saat tersebut tubuh akan lebih rapuh akibat degenerasi pada hampir semua sistem fisiologis yang meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.

Salah satu jaringan yang mengalami kemunduran adalah tulang. Setelah berusia 35 tahun tulang mengalami penurunan massa tulang 0,3%–0,5% pertahun secara alamiah akibat resorpsi tulang tua lebih cepat dari pada pembentukan tulang baru atau terjadi kegagalan pembentukan tulang baru yang cukup atau kombinasi keduanya. Bila kondisi ini berlanjut tidak terkontrol, maka akan terjadi penyakit kerapuhan tulang atau osteoporosis. Diperkirakan 1 dari 3 wanita dan 1 dari 12 pria di atas usia 50 tahun di seluruh dunia mengidap osteoporosis.

Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan hilangnya jaringan tulang yang dapat menyebabkan tulang lemah dan rapuh. Pada penderita terjadi peningkatan risiko patah tulang, khususnya di tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan. Masalah pun bertambah, karena penyembuhan patah tulang ini lambat, sehingga berisiko mengalami cacat atau lumpuh. Bila itu terjadi, penderita butuh biaya perawatan besar, keterbatasan gerak, ketergantungan pada orang lain, kualitas hidup menurun, bahkan kematian.

Penyebab pasti osteoporosis hingga kini belum diketahui, tetapi sejumlah faktor diketahui meningkatkan risiko osteoporosis, antara lain faktor penuaan, kerangka tubuh kecil, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, kadar estrogen rendah pada wanita, kadar testosteron rendah pada pria, keturunan, memiliki diet rendah kalsium dan vitamin D, aktivitas fisik kurang, stres, mengonsumsi alkohol dan rokok berlebihan serta adanya penyakit kronis yang mengganggu metabolisme tulang, seperti diabetes, sirosis hati, gondok, tumor kelenjar pituitari dan tumor tulang.

Keberadaan osteoporosis sering tidak disadari, karena pada beberapa penderita tidak memiliki gejala. Adanya rasa pegal, linu-linu dan nyeri tulang tumpul terutama pada bagian leher, punggung dan pinggang. yang intensitas serangannya meningkat pada malam hari, dapat menjadi gejala-gejala yang harus diwaspadai sebagai awal osteoporosis. Jika kepadatan tulang sangat berkurang maka tulang menjadi kolaps atau hancur oleh tekanan yang ringan, mengakibatkan nyeri tulang menahun dan kelainan bentuk. Punuk Dowager adalah salah satu kebungkukan yang abnormal akibat beberapa tulang belakang hancur.

Sebelum usia 65 tahun, osteoporosis lebih banyak mengancam kaum perempuan dari pada laki-laki. Hal ini terjadi karena pada perempuan terjadi penurunan jumlah hormon estrogen yang drastis 10%–20% setelah menopause (48–52 tahun) yang menyebabkan percepatan hilangnya tulang selama 3–5 tahun pascamenopause. Pada laki-laki pengeroposan tulang lebih lambat dimulai dan berkembang lebih lambat karena mereka memiliki kerangka yang lebih besar dan tidak memiliki periode perubahan hormonal dan kehilangan tulang yang cepat.

Meskipun degenerasi tulang akibat proses penuaan tidak dapat dihindari, namun tingkat perkembangan dan efeknya dapat dikendalikan dengan diagnosis dini, upaya mandiri dan pengobatan.

Untuk mengetahui secara dini terjadinya osteoporosis dapat digunakan beberapa cara pemeriksaan seperti, radiologik, radioisotop, QCT, MRI, QUS, Densitometer atau melalui pemeriksaan laboratorium.

Upaya mandiri dilakukan melalui nutrisi sehat cukup kalsium dan vitamin D, bergerak aktif dan olahraga, tidak stress dan menghindari rokok, alkohol dan soft drink. Umumnya, asupan 700–1.200 miligram kalsium setiap hari dari makanan, susu dan produk olahannya sudah cukup dalam memenuhi kebutuhan kalsium. Penambahan suplemen kalsium hanya untuk penderita kekurangan kalsium tingkat menengah dan berat dan dibawah bimbingan dokter, terutama bagi penderita penyakit jantung, darah tinggi dan gangguan ginjal. Aktivitas fisik sesuai kemampuan dan teratur penting untuk kesehatan tulang, seperti jalan kaki, menaiki tangga, dansa, menari atau aerobic low impact. Kini di beberapa tempat pelayanan kesehatan telah menyediakan kelas Senam Osteoporosis.

Pengobatan untuk osteoporosis berfokus pada memperlambat atau menghentikan kehilangan mineral, meningkatkan kepadatan tulang, mencegah patah tulang, dan mengendalikan rasa sakit yang terkait dengan penyakit. Penderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D. Pada wanita bisa mendapatkan kombinasi estrogen-progesteron atau bisfosfonat dan pada pria bisa diberikan testosteron jika kadar testosteronnya rendah.

Bagi kita yang belum memasuki usia lanjut, membangun dan mempertahankan tulang semaksimal mungkin saat ini dengan asupan kalsium yang cukup dan olahraga akan menurunkan risiko osteoporosis di usia tua.

*adp
Sumber al.: en.wikipedia.org, medicinenet.com,
emedicinehealth.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s