Merah Putih Berkibar di Hartlepool

Hartlepool yang berjarak 257 miles dari London dengan waktu tempuh 4 jam 40 menit, adalah kota kecil berpenduduk 90.000 jiwa yang terletak di sebelah timur Laut England. Hartlepool tumbuh menjadi kota pelabuhan karena posisinya yang berdekatan dengan laut. Pada pertengahan abad ke-18, banyak terdapat industri pembuatan kapal di kota ini, sehingga pada Perang Dunia Pertama Hartlepool adalah sasaran utama Jerman untuk dimusnahkan. Hartlepool adalah kota yang sepi dan lengang dalam kesehariannya, tetapi suasana ini berubah total pada tanggal 7‒10 Agustus 2010, ketika diadakan penutupan “Tall Ships’ Races 2010”.

Tall Ships’ Races adalah acara tahunan yang diadakan oleh Sail Training International. Setiap tahun acara ini diikuti oleh sekitar 70–100 buah kapal layar dari berbagai negara. Tall Ships’ Races 2010 dimulai dari Kristiansand, Norway dan ditutup di Hartlepool, Inggris. Salah satu peserta Tall Ships’ Races 2010 adalah kapal kebanggaan kita KRI Dewaruci.

KRI Dewaruci merupakan kapal terbesar yang dimiliki oleh TNI Angkatan Laut Indonesia. Kapal ini diproduksi di Jerman pada tahun 1952 dan diluncurkan pada bulan Januari 1953. KRI Dewaruci adalah kapal latih bagi para taruna atau kadet Akademi Angkatan Laut. Nama “Dewaruci” diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan jawa. Dewa Ruci adalah dewa yang bijaksana yang memberi wahyu kepada Bima tentang kebahagiaan.

KRI Dewaruci merapat di Hartlepool pada tanggal 5 Agustus 2010, lebih cepat dua hari dari waktu yang dijadwalkan. Sejak awal kedatangannya, Dewaruci telah mencuri perhatian pengunjung yang datang ke Hartlepool. Kapal yang berukuran 58,5 meter dan lebar 9,5 meter selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin menikmati keunikan kapal ini. Adanya atraksi-atraksi menarik yang selalu ditampilkan di dek kapal oleh para awak kapal dan kadet-kadet Angkatan Laut ditambah dengan keramahan para awak kapal membuat pengunjung rela antri untuk masuk ke KRI Dewaruci. Setiap malam, para kadet Angkatan Laut selalu mengajak para pengunjung, baik yang naik ke kapal, maupun yang berada di luar kapal untuk berpoco-poco. Para awak kapal juga berbaik hati mengantar para pengunjung yang ingin melihat isi kapal, termasuk dapur, kamar makan, ruang tamu dan kamar tidur.

Digelarnya pertunjukan parade oleh awak-awak kapal seluruh peserta Tall Ships’ Races pada tanggal 8 Agustus, membuat KRI Dewaruci beserta awak kapal dan kadetnya kembali mencuri perhatian pengunjung. Atraksi marching band yang memukau dan atraksi Reog Ponorogo membuat para pengunjung terkesima dan kagum sehingga mereka rela untuk berdesak-desakan melihat atraksi ini.

Di hari berikutnya, tanggal 9 Agustus diadakan Diplomatic Reception yang dihadiri oleh Bapak Duta Besar RI untuk Inggris Raya dan Irlandia, Bapak Yuri Thamrin beserta Ibu Risandrani Thamrin, Atase Pertahanan RI untuk Inggris Raya, Kolonel Nurchahyanto beserta Ibu Evy Nurchahyanto dan staf KBRI London. Turut hadir pula kapten-kapten kapal peserta Tall Ships’ Races dan masyarakat Indonesia yang berada disekitar Hartlepool yang membuat acara pada malam itu menjadi meriah. Para kadet Angkatan Laut menampilkan tari-tarian tradisional, mulai dari Rampak Gendang, tarian dari Papua, tari Saman, hiburan musik dari awak kapal KRI Dewaruci hingga menari Poco-Poco bersama sebagai penutup.

Di hari terakhir, tanggal 10 Agustus, tak henti-hentinya para kadet dan awak kapal KRI Dewaruci mempersembahkan sesuatu yang unik bagi para pengunjung. Saat mereka meninggalkan Hartlepool dengan diiringi dengan Marching Band, para kadet naik ke tiang kapal sambil melambaikan tangan tanda perpisahan kepada pengunjung. Para pengunjung tetap rela berdiam diri di tempat untuk menyaksikan atraksi terakhir dari Dewaruci, walaupun hujan mengguyur badan mereka. Tidak sedikit para pengunjung yang meneteskan air mata ketika KRI Dewaruci menjauh dari Hartlepool. “We’ll miss you!”, seru mereka.

KRI Dewaruci yang meninggalkan tanah air sejak bulan Maret 2010 dan InsyaAllah akan kembali sampai di tanah air pada minggu ketiga bulan November 2010. Lima bulan sudah para awak kapal meninggalkan keluarga tercintanya di tanah air. Lima bulan sudah para awak kapal tidur di kabin-kabin kecil. Bila laut tenang, mereka pun dapat tidur dengan nyenyak, tetapi bila laut sedang tidak bersahabat, tidurpun menjadi tidak nyaman, “Kasihan…” itulah kata yang terucap ketika mendengar cerita itu, tetapi ternyata mereka tidak mau dikasihani. “Kata kasihan, membuat kami jadi terharu Bu, membuat kami jadi sedih, kami butuh diberi semangat Bu, sehingga kami dapat menyelesaikan misi yang sudah setengahnya kami lewati dengan penuh semangat dan kegembiraan”. “Kami butuh diberi semangat Bu, bukan dikasihani”, begitulah komentar salah satu awak kapal ketika kami sempat berbincang.

Bangga rasanya melihat bendera Merah Putih berkibar dengan gagahnya di Hartlepool. Bangga rasanya melihat pengunjung yang terkesima mengagumi keunikan KRI Dewaruci. Terima kasih KRI Dewaruci, kau membuat kami bangga menjadi rakyat Indonesia.

“Maju terus KRI Dewaruci, sukses dalam mengemban semua misimu,
 semoga lancar kembali ke tanah air!”

*Ny. Wiwid Ranon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s