Masalah Perubahan Iklim dan Peranan Kaum Ibu

Fenomena global perubahan iklim merupakan masalah yang terus menerus kita dengar dan pahami. Sepatutnya kita awas dan waspada mendengar kata ini karena apa yang dimaknai  itu sedang terjadi  telah melanda bumi. Perubahan iklim itu sendiri merupakan sebuah fenomena global bukan lagi persoalan satu negara atau satu wilayah telah menjadi issue lintas negara. Penyebabnya bersifat global  yang  disebabkan  oleh aktivitas manusia di seluruh dunia  dan dampaknya juga bersifat global.

Negara-negara di dunia telah mengantisipasi dan membahas upaya-upaya menghambat berlanjutnya proses perubahan iklim ini dalam berbagai forum internasional. Forum yang paling relevan saat ini dan banyak mendapat sorotan adalah United Nations Framework Convention on Climate Change dengan pertemuan Negara pihak Kyoto Protocol.  Pada bulan Desember mendatang akan dilakukan pertemuan para pihak yang ke-15 dan akan sangat menentukan keberlanjutan Kyoto Protocol sebagai landasan komitmen masyarakat internasional dalam mengurasi emisi gas rumah kaca.  Negeri kita Indonesia telah sejak awal turut berpartisipasi dan memberikan sumbangan yang positif seperti dengan dihasilkannya Bali Road Map pada saat pertemuan para pihak ke-13 di Bali tahun 2007 lalu.

Mengapa fenomena perubahan iklim ini bisa menjadi isu global yang begitu menarik perhatian saat ini ? Apakah kondisi penyebabnya ? Proses perubahan iklim terjadi sangat perlahan dan dampaknya tidak langsung dirasakan saat ini. Namun generasi mendatanglah yang akan merasakannya. Jika proses perubahan iklim dibiarkan maka suatu saat akan menjadi sangat sulit untuk mengembalikan kondisi iklim bumi seperti semula.

Sejak dulu matahari dengan setia memancarkan cahayanya ke bumi untuk memberikan kehangatan dan kehidupan bagi manusia dan tumbuh-tumbuhan. Sampai di permukaan bumi gelombang cahaya matahari akan dipantulkan kembali ke atmosfir menuju ruang angkasa. Karena atmosfir telah terkonsentrasi dengan emisi gas-gas antara lain karbon dioksida (co2), Dinitroksida (CH4), dan gas berasal dari sampah methana. Gelombang sinar matahari yang terpantul tadi menjadi tertahan oleh konsentrasi  gas tersebut sehingga terpantul kembali ke permukaan bumi. Gelombang sinar matahari yang tertahan atau memantul kembali tersebut menjadi akumulasi panas di bumi dan terus berlanjut hingga bumi pun menjadi panas. Kondisi inilah yang disebut “Efek Rumah Kaca” dan gas penyebabnya disebut gas rumah kaca (green house gas emission).

Bagi ibu-ibu yang mengikuti para suami yang bertugas di London ini, tentunya isu perubahan iklim ini merupakan isu yang tidak asing. Kita mungkin pernah mendengar bahwa perubahan iklim menyebabkan perubahan dan pergeseran musim ditandai oleh kondisi musim hujan dan kemarau yang menjadi tidak menentu dan ekstrim. Di beberapa tempat musim kemarau berlangsung lama hingga menyebabkan bencana kekeringan. Sementara terdapat juga kondisi curah hujan yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan bencana banjir.  

Perubahan iklim juga menyebabkan naiknya permukaan air laut serta perubahan kondisi  ekosistem laut. Bagi Indonesia yang memiliki posisi geografi sebagai negara kepulauan tentunya hal ini akan menimbulkan permasalahan bagi nelayan. Belum lagi perubahan musim yang tidak menentu tentunya juga akan berpengaruh bagi mereka.

Dalam hal ini kontribusi  apa yang dapat kita lakukan terutama oleh para ibu-ibu yang menginginkan kelestarian lingkungan hidup untuk kelangsungan generasi mendatang. Sejalan dengan gerakan menanam sejuta pohon yang dicanangkan Presiden RI  tahun 2007 yang lalu untuk menghijaukan kembali hutan dan tanah yang sudah gundul dengan menanam pohon di mana saja tempat yang bias menanam pohon, kaum wanita juga bisa berpartisipasi. Sesuai dengan wejangan i bu Negara Ani Yudhoyono bahwa perempuan secara naluriah telah terbiasa mengasuh dan membesarkan anak maka naluri ini dapat kita transformasikan pula pada upaya memelihara dan membesarkan pohon dimanapun yang bisa ditanami. Dalam konteks ini pula 7 organisasi wanita di Jakarta dan Konggres Wanita Indonesia (Kowani), organisasi yang membawahi 78 organisasi wanita, telah melancarkan program “tanam dan pelihara” pohon yang sekarang dilanjutkan pula dengan penanaman pohon untuk pangan seperti sukun dan pohon nangka yang dimanfaatkan industry hilir bahan pangan dan menanam pohon obat-obatan keluarga. Di sinilah salah satu peran ibu-ibu saat kembali ke tanah air kelak

Kita memahami keberadaan hutan dan pohon sangat bermanfaat. Salah satu fungsi hutan sendiri adalah penyerap dan mengubah karbondioksida (CO2) menjadi oksigen (O2) yang merupakan kebutuhan utama makhluk hidup. Disamping untuki menyerap O2, pohon-pohon juga memiliki manfaat menahan air untuk menyerapnya kedalam tanah dan mengalirkan kembali ke danau, situ atau ceruk guna menyimpan resapan air yang dibutuhkan saat kemarau. Selain itu dengan akar-akarnya yang kuat dapat memperkuat dan menahan tanah agar tidak longsor. Jadi hutan tropis yang kita miliki menyejukkan, mengatur sirkulasi dan menyediakan tempat bernaungnya berbagai species yang tak terhitung jumlahnya.

Untuk mengurangi terkonsentrasinya gas emisi rumah kaca di atmosfter kita semua hendaknya nmengurangi pemakaian energy yang berlebihan terutama energy fossil fuel yang merupakan penyebab utama peningkatan emisi gas rumah kaca. Penggunaan energy seperti listrik, bahan bakar minyak bumi, batu bara dan minyak bumi secara berlebihan cukup jelas merupakan  memicu peningkatan emisi gas rumah kaca. Secara penuh kesadaran kita perlu menggantinya dengan bahan bakar alternative yang lebih ramah lingkungan seperti biofuel .  Dalam kaitan ini ibu-ibu juga dapat memberikan kontribusi konkrit lainnya yaitu dengan mempraktekkan hemat energy di rumah tangga masing-masing. Hendaknya dengan menyadari dampak negative dari penggunaan energy secara berlebihan apalagi jika berasal dari fossil fuel maka ibu-ibu dapat memberikan contoh penghematan energy seperti mematikan lampu yang tidak digunakan atau menaikkan suhu pada pendingin ruangan saat hawa udara sedang tidak terlalu panas. Mungkin kontribusi kita itu kecil tapi tetap dapat menjadi bagian yang penting dalam upaya umat manusia mengurangi emisi.

Penulis : Ny Andrieza Tahar SH

Sumber Foto : Yahoo Image

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s