Demam Panas

Febris atau demam bukanlah hal baru bagi kita. Meski demikian ketika suhu tubuh anak meningkat kita menjadi cemas hingga bergegas mendatangi dokter atau IGD rumah sakit agar cepat pulih. Apakah demam itu suatu penyakit, berbahayakah, bagaimana menanganinya?

Perlu diketahui bahwa demam hanyalah suatu keluhan dan bukan suatu diagnosis. Meskipun infeksi adalah penyebab umum dari demam, akan tetapi demam mempunyai daftar penyebab lain yang cukup panjang, termasuk racun, kanker, dan penyakit-penyakit autoimun.

Demam bisa menjadi teman atau lawan. Zat pirogen yang dilepaskan selama demam memperlambat penggandaan virus dan bakteri, meningkatkan produksi antibodi terhadap kuman dan meningkatkan jumlah sel darah putih untuk melawan infeksi. Tetapi demam juga mengganggu anak, anak menjadi rewel dan peka ketika penyakit mereka mencapai puncak. Selain itu kenaikan suhu dengan cepat dapat menyebabkan febrile convulsion atau "kejang demam" atau serangan demam secara mendadak.

Prinsip dalam menangani demam

  • Jangan panik, umumnya demam tidak membahayakan jiwa.
  • Cari tahu penyebab utamanya.
  • Amati perilaku anak. Bila dengan suhu tidak terlalu tinggi masih riang, aktif dan  mau bermain maka kita tidak perlu  panik.
  • Jangan memberikan obat penurun  panas bila demam tidak tinggi.
  • Mengetahui kapan harus cemas dan menghubungi dokter.

Kapan harus menghubungi dokter?

  • Bayi berusia kurang dari 90 hari dengan suhu lebih dari 37,9 °C karena mereka mudah menjadi sakit parah dalam waktu sangat cepat.
  • Bayi berusia 3 – 6 bulan dengan demam lebih dari 38,3°C.
  • Bayi berusia 6 – 12 bulan dengan demam lebih dari 39,4°C.
  • Anak berusia kurang dari 2 tahun dengan demam lebih dari 24 – 48 jam.
  • Demam tinggi (lebih dari 40 °C) pada usia berapapun.
  • Pada anak yang lebih tua dan orang dewasa dengan demam lebih dari 48 – 72 jam.
  • Ada gejala-gejala lain yang mengkhawatirkan, seperti gelisah, kesadaran menurun, tampak sakit berat, kesulitan bernafas, kaku kuduk, tidak dapat menggerakan lengan atau tungkai, kejang untuk pertama kali, timbul bintik-bintik atau bercak ungu kemerahan-merahan (perdarahan bawah kulit), demam disertai muntah terus-menerus, diare, sulit/nyeri pada saat menelan ludah atau minum, sangat rewel (misalnya menangis terus-menerus bila disentuh atau dipindahkan), terdapat tanda-tanda dehidrasi (mulut sangat kering, tidak buang air kecil lebih dari 6 jam, dll).
  • Mempunyai penyakit kronis.

Cara mengatasi demam:
Peningkatan panas tubuh terjadi karena kapasitas produksi panas lebih besar dari pengeluaran panas. Tubuh merespon dengan menggunakan suber daya yang tersedia untuk membuang kelebihan panas yang diproduksi. Pembuluh darah membesar, panas segera dialirkan melalui kulit, denyut jantung lebih cepat agar lebih banyak darah yang dapat dipompa kekulit, napas lebih cepat untuk melepaskan udara hangat dan berkeringat untuk mendinginkan tubuh.

Bantu proses ini dengan langkah-langkah sbb:

  • Istirahat, agar daya tahan tubuh maksimal untuk melawan infeksi atau penyakitnya, selain itu peningkatan aktivitas akan meningkatkan panas tubuh yangg lebih tinggi lagi.
  • Banyak minum. Panas menyebabkan cairan tubuh banyak keluar melalui keringat dan air seni. Jangan mengkonsumsi minuman berkafein seperti teh atau kopi karena akan memperbanyak cairan keluar, sehingga dapat terjadi dehidrasi.
  • Kenakan pakaian yang tipis dan sederhana. Membungkus badan dengan baju hangat atau dengan selimut tebal justru tidak dibenarkan karena penguapan panas tubuh terhambat sehingga suhu akan tambah naik. Anak-anak dapat menjadi kejang (stuip). Bila terasa dingin gunakan selimut tipis. Ciptakan ruangan yang tidak pengap atau panas dengan sirkulasi udara yang lancar.
  • Tindakan paling baik ialah menyeka seluruh tubuh penderita dengan kain basah hangat kuku terus-menerus selama 5 sampai 7 menit. Dengan menguapnya air dari kulit, tubuh akan ikut didinginkan. Tidak baik memakai alkohol untuk tujuan ini, karena alkohol akan diserap melalui kulit. Melakukan kompres hanya di kepala juga tidak efektif, karena kontak permukaan terlalu kecil.
  • Bila upaya awal untuk menurunkan demam tidak berhasil, maka dapat diberi obat penurun panas. Obat pilihan utamanya ialah parasetamol setiap 6 atau 4 jam sesuai petunjuk dokter.
  • Demam yang sudah diderita lebih dari 2 sampai 3 hari perlu dikonsultasikan ke dokter karena perlu ditentukan penyebabnya.
  • Jika seseorang terkena panas karena kelelahan atau heat stroke, keluarkan orang tersebut dari sumber panas, seka dengan dengan air hangat kuku. Tempatkan kantong es di ketiak, dibelakang leher dan di lipat paha. Berikan cairan jika orang itu sadar. Cari pertolongan medis.

Penanganan kejang demam:

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat dan tubuhnya mengalami kenaikan suhu yang tinggi. Selama  mengalami kejang demam ia dapat kehilangan kesadaran disertai gerakan lengan dan kaki yang menyeluruh, atau justru disertai dengan kekakuan tubuhnya, biasanya berlangsung beberapa detik dan tidak lebih dari 5 menit. Bila anak sudah pernah kejang, jangan sampai anak itu mengalami panas tinggi, usahakan cepat turunkan panasnya agar tidak sampai menjadi kejang.

Bila anak kejang:

  • Jangan batasi gerakan tubuhnya atau memeganginya untuk melawan kejangnya, longgarkan pakaian agar oksigen mudah masuk, karena kejang berarti pasokan oksigen di otak berkurang. Baringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak.
  • Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut seperti sendok atau penggaris, karena benda tersebut dapat menyumbat jalan napas.
  • Sebagian besar kejang berlangsung singkat, tapi jika kejang terus berlanjut selama 5 hingga10 menit harus segera dibawa ke RS. Ada juga yang menyatakan bahwa penanganan lebih baik dilakukan secepat mungkin tanpa menyatakan batasan menit.
  • Setelah kejang berakhir temui dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada kekakuan leher, muntah-muntah yang berat, atau terus tampak lemas, apalagi bila baru pertama kali kejang.
  • Ada obat yang dapat mengurangi kejangnya, seperti diazepam atau valium yang berguna untuk merelaksasi otot. Tapi harus diberikan ketika terjadi kejang, tidak berguna apabila diberikan sebelum atau sesudah kejang.

Oleh: adp
Sumber: purnamawati.wordpress.com, suryo-wibowo.blogspot.com
Gambar: Google Images

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s