Perbincangan dengan mbak Neng Asyari

Bulan ramadhan kembali tiba,  seluruh umat muslim di berbagai belahan dunia kembali bersiap menjalankan salah satu rukun Islam, yaitu berpuasa selama bulan ramadhan. Perintah puasa difirmankan oleh Allah pada Al- Qur’an pada Surat Al- Baqarah, ayat 183. Berpuasa  menahan lapar, dahaga dan dari segala hal yang dapat membatalkan puasa dari mulai matahari terbit sampai matahari terbenam.

Bertepatan dengan ramadhan kali ini, kami menampilkan sosok seorang muslimah yang kiprahnya dalam syiar Islam di Inggris, khususnya di London sangat terasa, Neng Asyari. Mbak Neng, kita biasa menyapanya. Walaupun dengan kesibukannya yang luar biasa padat, dengan senyumnya yang selalu merekah, mbak Neng dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. Berikut ini petikan pertanyaan yang kami ajukan kepada mbak Neng.

Siapa nama lengkap mbak Neng, tempat, tanggal lahir, nama suami dan nama anak serta bagaimana mbak Neng bisa sampai ke London ?
Nama lengkap saya  Nurul Hidayati , lahir di kota Medan, Sumatera utara pada tanggal 30 Juni. Saya  hijrah ke London pada tahun 1988, sudah 20 tahun yang lalu, untuk mendampingi suami, Bapak Asyari Usman, yang bertugas sebagai jurnalis dan penyiar di radio BBC London. Dari pernikahannya ini, saya mempunyai dua orang putra, setelah beberapa kali mengalami keguguran. Kedua putra saya kini telah beranjak dewasa, yang pertama bernama Imam Riadhil Muttaqin, yang telah selesai menjalani program pendidikan S2nya di bidang diplomasi/politik. Sedangkan yang kedua  bernama Irham Tri Muharam, yang baru saja menyelesaikan program pendidikan S2nya dibidang fisika dan Insya Allah akan melanjutkan S3 nya bulan Oktober ini.

Bagaimana latar pendidikan mbak Neng?
Dari tamat SD swasta bahagia 1972, saya melanjutkan SKP dan SMKK di Medan, pada saat itu ada pertukararan tahun ajaran, dari akhir tahun dirubah menjadi pertengahan tahun, saya merupakan salah satu korban juga, sehingga saya menjalanai kelas 3 SMA selama 1,5 tahun. Tamat dari SMA, saya melanjutkan ke IKIP di Medan, sayangnya tidak sampai selesai karena saya menikah, dilanjutkan menjadi seorang ibu. Keinginan saya yang belum terpenuhi adalah menjadi seorang psikolog, mudah-mudahan nanti mantu atau cucu saya bisa melanjutkan keinginan saya itu.

Bagaimana awal keterlibatan mbak Neng aktif dalam syiar agama Islam di Inggris, khususnya di London ini?  
Keterlibatan saya dalan syiar Islam yaitu dengan aktif  di kegiatan pengajian, ini bermula dari pengalaman anak sulung saya yang mempunyai guru orang Inggris yang beragama Islam. Anak saya ini sering sekali bercerita tentang gurunya ini, gurunya yang bercerita tentang nabi dan seringnya mereka melakukan sholat Jamaah di sekolah. Saat itu saya senang sekali sebab di negara yang serba super ini anak saya masih bisa mendapatkan pendidikan tentang Islam. Tetapi pada suatu hari anak sulung saya berkata bahwa gurunya telah pindah dari sekolah itu. Berawal dari pengalaman itulah saya kemudian ingin mengetahui Islam lebih lanjut, yang tujuannya untuk mengajarkan kembali kepada anak-anak saya. Dari orang tua murid yang sudah lama tinggal di Inggris saya dapatkan tempat-tempat pengajian, meskipun pada awal tahun 1990, tempat-tempat pengajian masih sangat langka dan jauh dari tempat saya tinggal. Sekarang Alhamdulillah , saya dan siapa saja baik itu orang Indonesia, Inggris, Jerman, India, Pakistan sudah sangat mudah menemukan tempat-tempat pengajian. Saat ini di setiap pelosok Inggris telah banyak menemukan mesjid atau musholla, untuk mencari informasi tentang Islam.
Mbak Neng merupakan salah satu yang dianggap sebagai guru di  pengajian yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang rutin dilaksanakan setiap hari rabu di daerah Colindale, tidak hanya itu, mbak Neng juga merupakan guru agama yang baik bagi anak-anak yang ingin mengenal dan belajar tentang agama Islam lebih lanjut, dengan menjadi guru bagi anak-anak mbak Neng merasa bisa mempelajari ilmu psikologi secara langsung.

Bagaimana perasaan mbak Neng menjelang bulan Ramadhan ini? 
Sebagai orang muslim saya atau semua muslim pasti akan merasa bahagia dan selalu menanti datangnya bulan mulia ini, tetapi ada hal yang menjadi pikiran orang yang tinggal di negara barat, terlebih bila ramadhan jatuh pada musim summer, karena pada musim summer, subuh bisa jatuh pada pukul 02.55 dinihari, sementara magrib jatuh pada pukul 21.45. Hal ini terkadang membuat banyak orang resah, sebagian orang mengambil cuti di bulan ini, tetapi saya sendiri mencoba menikmati hal-hal seperti itu, semua ada nikmatnya.

Berarti apa kiat puasa yang bisa mbak Neng share buat yang lain, mengingat puasa kali ini juga cukup panjang?
"Share" yang bisa saya bagikan buat sahabat-sahabat, dalam menjalankan ramadhan yang cukup panjang ini, untuk orang dewasa lakukanlah aktifitas yang bermanfaat untuk membunuh waktu, kurangi perjalanan yang tidak penting, buat suatu patokan bahwa ramadhan kali ini kita mau khatam Al-Quran dan harus lebih baik dari tahun-tahun yang lalu, yang penting ikhlaslah dalam beribadah, niscaya Allah akan menolong kita. Bagi Ibu-ibu yang mempunyai anak yang masih kecil saya ingin membagikan sedikit pengalaman saya, pengalaman saya memang berat, tetapi itulah yang mampu saya lakukan, kapan lagi kita mengajarkan anak-anak kita untuk belajar puasa dan menghormati bulan ramadhan? Alhamdulillah cara itu membawa hasil buat anak-anak saya, walaupun itu juga bukan merupakan suatu jaminan, ada juga anak-anak yang masih tidak mampu atau tidak mau melakukan puasa. Anak-anak saya sudah saya ajarkan untuk berpuasa dari kecil, kebetulan anak-anak saya ikut "school dinner" di sekolah, saya merubah pola "lunch"-nya , saya minta izin ke sekolah selama satu bulan,  anak saya akan home dinner, jadi setiap "lunch time", saya jemput anak saya pulang, di rumah ,anak-anak saya beri satu potong roti dan minum, setelah selesai saya antar kembali ke sekolah dan melanjutkan puasanya sampai jam berbuka puasa. Untuk anak yang lebih besar mereka bisa pulang sendiri pada saat "lunch time" sehingga mereka bisa lebih banyak istirahat dan menghilangkan keinginannya untuk berbuka ketika melihat teman-temannya yang lain makan.

Bagaimana pola kehidupan beragama di keluarga mbak Neng?
Kita tergolong masih sangat awam dalam agama, apabila dibandingkan dengan teman-teman yang lain dari berbagai bangsa. Saya dan keluarga selalu berusaha menempatkan agama itu adalah urutan pertama dalam kehidupan sehari-hari, dalam tingkah laku dan dalam pergaulan, agama jadi ukuran kita, sehingga kita selalu mengatakan kepada anak-anak bahwa agama adalah "way of life", dan Allah sudah menjamin itu, tinggal akal kitalah yang menentukannya, ingin baik kah kita, ingin setengah-setengah atau ingin jadi buruk, Wallahhu a’klambishawab.

Apa makna ramadhan buat mbak dan keluarga?
Makna ramadhan bagi saya dan keluarga adalah Allah memberikan kesempatan buat kita untuk intropeksi dan membenahi diri lagi untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi, agar setelah ramadhan ini kita sadar siapa kita, dari mana dan mau kemana sesungguhnya kita ini.

Apa kendala dan hikmah yang mbak Neng rasakan menjalankan ibadah puasa jauh dari tanah air?
Alhamdulillah sejauh ini belum ada kendala dalam menjalankan ibadah puasa di rantau orang, Kalaupun ada hanya sebatas kangen ingin puasa dan berbuka bersama-sama saudara dan kerabat saja. Sedangkan hikmah puasa jauh dari tanah air, bagi saya, dapat merasakan betapa agungnya agama Allah ini, berbaurnya berbagai ras, suku, bangsa berkumpul di mesjid-mesjid untuk menanti iftar (buka puasa) satu sama lain ingin mencoba mambahagiakan, dan memberi apa saja yang mereka bawa saat berbuka puasa. Persaudaraan dalam Islam begitu erat rasanya, tidak perlu diundang atau sewa gedung mahal-mahal untuk berbuka puasa bersama, kita bisa menikmati buka bersama yang khidmat dengan beraneka macam makanan dari berbagai negara.

Apa yang biasa mbak Neng lakukan selama ramadhan bersama keluarga dan bersama anggota pengajian?
Biasanya kalau bulan ramadhan ini seluruh pengajian KBRI yang ada di London dan pengajian-pengajian di luar London melakukan berbuka dan tarawih bersama sambil mendengarkan Ceramah setiap akhir pekan, sedangkan bersama keluarga juga melakukan buka bersama di hari-hari biasa dengan beberapa orang yang berkenan mampir atau orang yang bermalam di rumah, sambil memperhatikan tadarus anak-anak.

Apa yang menjadi motto hidup mbak Neng?
Jadilah hamba yang jujur dan disayang Allah, karena bila Allah sayang kita Insya Allah orang lain pun akan sayang kepada kita juga.

Ada pesan yang ingin mbak Neng share buat pembaca bulletin DWP?
Pesan saya apa bila berkenan para ibu-ibu dan pembaca bulletin DWP untuk dishare, jadilah istri dan ibu yang sholeh, sholeh dalam segala hal, sebab baik dan buruknya satu negara tergantung dari baik atau buruk wanitanya, selalu berpikir kebaikan apakah yang sudah kita lakukan hari ini, hitung mana yang lebih banyak, dengan begitu tahu mana yang baik yang kita kerjakan dan mana yang tidak baik yang telah kita lakukan, mendampingi suami pun diperlukan wanita yang sholeh dan jujur.


Oleh : Redaksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s