Pengalaman Berorganisasi

Berorganisasi memang mudah-mudah gampang. Itulah kesan pertama saya ketika pertama kali ikut serta bergabung dalam organisasi Dharma Wanita pada masa penempatan suami saya pertama kali di Washington D.C.  Perasaan takut salah dan bagaimana menempatkan diri diantara Ibu-ibu yang lebih senior maupun yang lebih muda selalu menghantui saya pada saat pertama kali bergabung dengan Organisasi Dharma Wanita di Washington DC.

Namun ketika itu saya merasa cukup beruntung karena sebelumnya saya secara informal selalu ikut dalam kegiatan Dharma Wanita di KJRI Melbourne Australia ketika suami saya belajar di Australia. Walaupun kegiatan yang diikuti hanya pada saat-saat tertentu saja, namun pengalaman tersebut cukup memberikan gambaran bagaimana saya harus menempatkan diri pada saat saya harus bergabung secara penuh di organisasi Dharma Wanita.

Di KBRI Washington DC, saya  pertama kali diminta untuk bergabung di bidang kesekretarisan.  Bidang tersebut adalah sesuatu yang baru bagi saya karena walaupun saya pernah bekerja di suatu perusahaan di Indonesia, namun sifat pekerjaan saya tidak mengurusi masalah kesekretariatan. Untuk itu, saya berupaya untuk mempelajari tata persuratan maupun komputer agar kegiatan dapat berlangsung dengan lancar. Beruntung sekali pada saat itu, karena anggota kesekretariatan terdiri dari teman-teman yang juga sangat bersemangat sekali untuk mempelajari hal-hal yang baru sehingga dapat saling berbagi pekerjaan dan hal tersebut memudahkan kita semua.

Mengingat Washington DC merupakan tempat berkumpulnya para diplomat dari seluruh dunia yang cukup besar, banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh Dharma Wanita KBRI Washington DC.  Hal tersebut tentunya menambah kesibukan bagi ibu-ibu Dharma Wanita di KBRI dimana selain mengurusi pekerjaan di rumah tetapi juga mendukung kegiatan Dharma Wanita terutama dalam mengorganisir penyediaan masakan Indonesia dalam jumlah banyak, melakukan dekorasi, merangkai bunga maupun kegiatan promosi budaya Indonesia melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan seperti bazaar makanan dan kerajinan khas Indonesia sampai ke peragaan pakaian daerah. Namun saya sangat senang karena banyak sekali pengalaman yang dapat saya petik dalam berorganisasi selama masa penempatan suami saya di Washington DC.

Kegiatan di luar KBRI yang juga cukup menyibukkan adalah keikutsertaan dalam perkumpulan isti-istri diplomat asing di Washington DC yang juga kegiatannya cukup banyak. Beruntung sekali kami mempunyai ibu-ibu senior di KBRI yang sangat mendukung dan mendorong untuk selalu terlibat dalam kegiatan di luar KBRI sehingga dapat menambah wawasan seluruh pengurus Dharma Wanita. Disamping mendapatkan kesempatan mengetahui kebudayaan-kebudayaan dari negara asing lainnya, kitapun dapat mempromosikan Indonesia dalam kegiatan-kegiatan mereka. 

Pada penempatan suami saya yang kedua di Canberra, Australia, pengalaman saya selama di Washington DC telah cukup memberikan percaya diri dalam melaksanakan kegiatan Dharma Wanita di KBRI Canberra yang juga cukup sibuk mengingat volume kegiatannya yang cukup banyak.  Selama di Canberra, saya mendapatkan kepercayaan untuk melaksanakan tugas-tugas di bidang ekonomi. Selain kegiatan dalam rangka mendukung program KBRI, Dharma Wanita KBRI Canberra banyak melaksanakan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan promosi budaya, kesenian maupun kemasyarakatan. Mengingat tidak terdapat restoran Indonesia maupun masyarakat Indonesia yang dapat membantu pembuatan masakan Indonesia , semua kegiatan masak-memasak masakan Indonesia dilakukan oleh anggota Dharma Wanita.  Walaupun cukup menyibukan, saya cukup senang karena selain dapat belajar mengorganisir acara-acara “function” yang diselenggarakan oleh KBRI juga dapat mengatur penyiapan masakan Indonesia dalam jumlah banyak. 

Sebagaimana diketahui Kota Canberra adalah kota yang tidak terlalu ramai dan sibuk, sehingga para istri diplomat di Canberra selalu menyempatkan diri untuk bergabung dengan kegiatan organisasi wanita internasional setempat, yang disebut “Women Internasional Club” (WIC).  Kegiatan yang mereka selenggarakan selain pertemuan bulanan yang diadakan sebulan sekali, WIC juga menyelenggarakan program pembelajaran gratis mulai dari belajar memasak makanan-makanan khas setiap negara sampai pembelajaran mengenai berbagai jenis olah raga seperti tennis, golf dan bridge. Selain itu, para anggota juga mendapat kesempatan untuk dapat mempelajari berbagai jenis seni  seperti melukis  serta berbagai bahasa selain bahasa Inggris yaitu Jepang, Spanyol dan bahasa-bahasa asing lainnya. 

Dalam mengisi program di WIC tersebut, setiap negara biasanya berpartisipasi dengan mengisi program-program tersebut maupun menampilkan seni budaya masing-masing. Salah satu kegiatan besar WIC yang pernah dilakuan oleh Dharma Wanita KBRI Canberra adalah fashion show batik Indonesia dimana yang menjadi model adalah seluruh anggota Dharma Wanita KBRI Canberra. Dapat dibayangkan bagaimana ibu-ibu yang biasa memasak saat itu harus berlenggang lenggok di catwalk. Namun sambutan dari para undangan saat itu sangat besar sehingga para ibu-ibu sangat senang karena dapat melakukannya dengan baik walaupun bukan model yang sebenarnya.

Saat ini saya bergabung dengan Dharma Wanita Persatuan KBRI London dan saya berharap bahwa akan sangat banyak lagi pengalaman yang akan berkesan bagi hidup saya.  London adalah kota yang sangat menarik dan tentunya akan memberikan kesan tertentu yang juga akan sangat menarik.

 

*Oleh: Ine Sudradjat 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s