Siaaapp..grak! Luruskan!

Bagi anak-anak Indonesia yang dilahirkan dan dibesarkan di negeri orang, sekecil apa pun usaha mereka untuk tetap menjadi ‘Anak Indonesia’ seutuhnya tentu saja harus kita hargai. Meskipun kadang-kadang terjadi hal-hal yang membuat kita tertawa geli dibuatnya, salah satunya adalah usaha mereka untuk berbicara dan mengerti bahasa Indonesia.

Agar anak-anak terbiasa dengan bahasa Indonesia, seorang ibu yang sudah  lebih  20 tahun tinggal di London, sesering mungkin menggunakan bahasa Indonesia dengan anak-anaknya, sebut saja Rafi dan Dena.  Sementara anak-anak menjawab dalam bahasa Inggris, karena lebih mudah bagi mereka. Tapi salah mengerti masih saja sering terjadi.

Karena perlu melepas korden dari tempatnya, si ibu tersebut meminta tolong pada anaknya “Rafi, tolong ambilkan tangga”. Sambil berpikir keras, Rafi bertanya  “Why do you want the neighbours to come?” Keruan saja si ibu bingung “I want a ladder!”. Lalu Rafi menjawab “I am confused between tangga and tetangga”.

Suatu kali, si ibu menyuruh Dena “Tolong belikan koran di kios ya”.   Tanpa bertanya-tanya lagi Dena segera pergi, keluar-masuk kios yang berjajar di sekitar tempat tinggalnya. Karena tidak membawa hasil, melaporlah Dena  ke ibunya “Sorry mum, I couldn’t find one”. Si ibu heran ”No newspaper? Are you sure?”  Menyadari salah tangkap,  Dena berkata “Oh my God, I thought you want a Qur’an”. Jawab Dena yang tak kalah heran, mengapa pagi-pagi disuruh membeli Qur’an, apalagi di kios.

Pulang sekolah Rafi melihat ibunya sedang mencuci baju. Si ibu berkata  “Tolong bawa kesini kemejanya, mama mau cuci”. Langsung Rafi mengangkat meja dan didekatkan ke ibunya. Si ibu mengatakan “I mean your shirt, darling, not that table”. Eh, salah lagi!

Supaya tidak dua kali kerja, kalau marah-marah ke anaknya terpaksalah dalam bahasa Inggris. Setelah si ibu marah panjang lebar, sambil menunduk bertanyalah anak-anak    “Are you serious, mum?” Langsung dijawab “I have never been serious in my life!” Anak-anak tersenyum lega, sementara si ibu makin sebal. Padahal maksudnya adalah “I have never been so serious in my life”.

Rindu dengan sahabatnya yang sudah kembali ke tanah air, Dena curhat ke ibunya. “Mum, I don’t just miss her, but I also miss the kutu”. Karena memang teman yang satu ini tidak pernah terbebas dari kutu di rambutnya.

Menjelang 17 Agustus, Rafi bangga sekali terpilih menjadi salah satu anggota Paskibra untuk peringatan HUT RI di Wisma Duta. Mulailah Rafi mengikuti pelajaran baris berbaris yang semua instruksi tentu saja dalam bahasa Indonesia. Maklum karena pengalaman pertama dan saking semangatnya, rupanya  instruksi baris berbaris masih terngiang-ngiang.  Siaapp…grak,  Luruskan… Maju jalan…dll. Sewaktu mengantar ibunya pergi dengan mengendarai mobil, di lampu merah Rafi bertanya arah jalan, si ibu  menjawab “Lurus saja”. Dengan bangga Rafi menjawab “Okay, luruskan!” Ternyata yang ada di benak Rafi kata lurus dan luruskan sama maknanya.  Nah lho!

 
Thanks to Merty

 
Oleh Woro Yuwono

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s