Ni Made Pujawati Hobart

Seluruh tubuhnya menyatu dengan dinamika gerakan tari yang dipentaskannya. Suaranya lantang menerangkan setiap gerakan dasar tari Bali yang diikuti oleh peserta workshop dengan antusias. Gerakan-gerakan dasar Tari Bali yang cukup sulit perlahan dapat ditiru oleh peserta yang semuanya orang asing.

Diundang ke sekolah dasar sampai  universitas di United Kingdom untuk memberikan workshop Tari Bali hanya salah satu dari banyak aktifitas Ni Made Pujawati Hobart yang berdomisili di London sejak November 1999. Puja begitu panggilan akrabnya menyelesaikan sekolah formalnya di Sekolah Tinggi Seni Tari Indonesia Denpasar-Bali. Wanita Bali yang lahir di Banjar Pejeng Aji, Gianyar ini, sarat dengan pengalaman menari di mancanegara.

Memulai perjalanannya di London 9 tahun yang lalu, Puja bertemu dengan grup gamelan Bali ‘Lila Cita’ yang terdiri dari orang Inggris. Interaksi yang kuat dengan School of Oriental and African Studies (SOAS) tempat suami Puja bekerja, mempertemukannya dengan mahasiswa-mahasiswa yang sangat antusias ingin belajar tari Bali. Kelas tari Bali di SOAS tidak dapat bertahan lama dikarenakan sulitnya mendapat ruangan cukup besar. Sebagai jalan keluar Puja membuka kelas private di kediamannya di daerah Hampstead. Muridnya yang terdiri dari berbagai bangsa ini sebelumnya sudah mengenal Bali dari berbagai sumber. Mereka berasal dari Inggris, Amerika, Kepulauan Bahama, Jepang, Italia, Afrika, Jerman, India, Singapura, Malaysia dan Bali sendiri yang berusia antara 5-49 tahun. Tentunya Puja punya tehnik tersendiri dalam mengajarkan tari Bali kepada murid-muridnya yang memiliki latar belakang yang sangat bervariasi. “Tidak mudah menerapkan metode mengajar tari seperti di Bali. Saya harus punya metode khusus agar mereka tidak mudah menyerah dalam mempelajari gerakan-gerakan tari Bali yang cukup sulit. Apalagi pada saat mengajar anak-anak kecil, dimana mereka tidak tahu dan belum pernah menonton tari Bali. Saya ajak mereka menonton video tari Bali dulu agar mereka terbiasa mendengar suara tempo gamelan” ungkapnya saat ditanya suka dukanya mengajar tari Bali di negeri orang. Kesempatan untuk pertunjukan dua kali dalam setahun di LSO Discovery. St. Luke’s Church Old Street juga merupakan penyemangat para penari binaan Puja yang tergabung dalam grup  Lila Bhawa. “Ada juga pementasan di Oxford, Cambridge dan City University setiap tahun.  Pementasan di luar London juga cukup banyak, bahkan ada yang meminta pertunjukkan tarian Bali untuk acara pernikahan” lanjut Puja.

Sebagai penari Bali Puja sangat terbuka untuk belajar tarian lain. Ketika grup gamelan Jawa Southbank London  memerlukan penari Jawa, Puja belajar menari Jawa yang masih ditekuninya sampai saat ini. Liburannya setahun sekali ke Indonesia juga dimanfaatkan untuk memperdalam tari Jawa di Solo. Kolaborasi dengan penari India, Ballet, Spanyol dan China juga memperkaya pengalaman dan wawasan Puja. “Dalam kolaborasi penari dituntut kreatif, sensitif dan selalu belajar. Saya menikmati kolaborasi dengan penari-penari lain di London, karena setiap kolaborasi selalu penuh tantangan dan ada take and give”, ungkap Puja mengenai pengalamannya berkolaborasi.

Salah satu pengalaman menarik yang diceritakan oleh Puja adalah bekerjasama dengan seorang  Osteopath di sebuah klinik terkenal di London. Ketika Puja mengantar suami untuk berkonsultasi, Osteopath tersebut tertarik untuk mengetahui gerakan-gerakan tari Bali. Setelah melihat dan mengamati gerakan-gerakan tari Bali, Osteopath tersebut berpendapat bahwa gerakan tari Bali yang sifatnya menyeluruh sangat baik untuk terapi pasien-pasiennya.  “Saya diminta membuat proposal, dan sempat beberapa bulan sebagai instruktur untuk terapi  pasien-pasien penyakit tulang di klinik tersebut”.

Seorang penari seperti Puja tidak pernah berhenti berkarya dalam bidangnya. Setelah dua buah garapannya yaitu Tari Jaya Prana dan Tari Chandra Kirana meraih kesuksesan dalam setiap pementasan, sekarang Puja dalam proses menciptakan satu garapan yang bersumber pada cerita Italia kuno. Imaginasi yang tak terbatas selalu menyediakan ruang untuk Puja berkreasi dan menghasilkan suatu karya seni.

 
Selamat berkarya Puja, kami bangga memiliki duta bangsa yang dapat mengharumkan nama bangsa melalui kreatifitas seni tari.

 

Oleh Hanna Sastrawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s