ASEAN LADIES COFFEE MORNING, 28 FEBRUARI 2008

 

Pesona Pulau Bali memang dahsyat, segala hal yang berkaitan dengan Bali  selalu saja menarik untuk ditampilkan sebagai  bahan promosi di mancanegara. Oleh karena itulah kami mengangkat tema  ‘Bali at A Glance’ dalam kesempatan  menjadi tuan rumah untuk Asean Ladies Morning tahun ini.

Acara diselenggarakan di KBRI, tanggal 28 Februari 2008 dari pukul 10.30 sampai 12.30. Undangan hadir adalah para isteri Duta Besar dan isteri Diplomat dari Negara tetangga yaitu: Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand, Filipina dan Myanmar.  Sedangkan Vietnam dan Kamboja berhalangan datang.

Dalam sambutannya Ibu Hanna Sastrawan, Penasehat DWP KBRI London, mengajak hadirin untuk ‘berwisata’  sejenak ke Bali. Terutama  mengenal tari Bali secara lebih mendalam. Disampaikan juga bahwa  Tari Bali  memiliki makna religius dan bersifat sakral.

Sebagai pengisi acara adalah Ni Made Pujawati , seorang penari Bali profesional yang berdomisili di London. Dibantu oleh I Nengah Susila, seorang musisi gamelan Bali yang kebetulan sedang bertugas mengajar di SOAS (School of Oriental and African  Studies). Bisa dikatakan acara ini  lebih merupakan ‘workshop’ tari Bali, karena selain mengupas lebih detail tentang macam-macam  gerakan tari, Ni Made juga mendemonstrasikan gerakan dasar tari. Kemudian para tamu  didaulat untuk mempraktekkannya. Setelah itu Ni Made mempersembahkan Tari Margapati. Suasana semakin hangat saat I Nengah Susila mengajarkan ‘musik mulut’ Tari Kecak. Terdengar suara dari hadirin  cak cak cak…cak cak cak.

Agar nuansa Bali terasa lebih kental, dekorasi ruangan dibuat ‘Bali Mini’, ada ‘gebogan’ (rangkaian buah berbentuk kerucut), ‘canangsari’ (rangkaian bunga  untuk sesaji), dan  dupa untuk mendapatkan suasana magisnya.

‘Wisata’ ke Bali menjadi lebih lengkap, karena para tamu dimanjakan dengan aneka menu masakan khas Bali, seperti Sup Cram Cam, Jejeruk Kacang Panjang, Be Pasih Mapanggang, Udang Mapanggang, Tum Ayam dan Sambal Embe. Makanan ditata cantik  menggunakan gerabah dan daun pisang.  Aneka jajan pasar yang ditata dalam tampah menambah sentuhan tradisional.

Pada akhir acara, kepada setiap undangan dibagikan sebuah tanda mata berupa lukisan kanvas bergambar penari bali. Lega rasanya bisa menyajikan sesuatu yang apik, padat dan berkesan bagi para tamu. Semoga tujuan mempromosikan budaya Indonesia ini tercapai. 

* Oleh Woro Yuwono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s