Dara Trifitri Arief

Sosok Dara Arief yang selalu dirasakan sebagai penyemangat Tim Buletin dan telah menyumbangkan idenya yang kreatif selama hampir 2 tahun untuk buletin Dharma Wanita Persatuan KBRI London, pada tanggal 27 Desember 2007 kemarin telah kembali ke tanah air. Rasa kehilangan Mbak Dara ini terasa sekali bagi tim buletin yang masih tinggal di London. Namun, di tengah kesibukan beliau mengurus anak dan suami di Indonesia, beradaptasi kembali dengan lingkungan baru di Indonesia, Mbak Dara masih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tim buletin tentang dirinya.

Dara Trifitri nama lengkapnya, namun karena menikah dengan bekas pacar yang bernama Arief ditambah tuntutan harus punya family name supaya memudahkan segala urusan, maka akhirnya ia memasang Dara Arief sebagai namanya.

Usia? “Rahasia dong” katanya dengan gayanya yang selalu manis, “karena sudah tua kok prestasinya cuma segini” katanya merendah. “Tapi bisa dihitung deh”, lanjutnya.

Mbak Dara masuk jurusan Psikologi Unpad angkatan 1983, sebenernya ingin menjadi ‘tukang insinyur’ ITB tapi ternyata Mbak Dara akhirnya diterima di pilihan kedua yaitu Psikologi Unpad.

Dengan berjalannya waktu ternyata Mbak Dara menemukan asyiknya kuliah. “Enak dan lebih santai”, katanya berseloroh. Setelah selesai kuliah sempat berkarier sebagai karyawan di perusahaan swasta. Pilihan tersebut dirasa tepat karena ternyata sang suami memilih menjadi pegawai negeri. Jadilah Mbak Dara dan Pak Arief pasangan yang saling mengisi.

Sepulang penempatan Pak Arief yang pertama di Tunisia, Mbak Dara sempat bekerja lagi, kali ini di konsultan Human Resources. Menurut Mbak Dara selama kita bisa memanfaatkan resources yang ada, mengapa tidak? Semula hanya berniat bekerja part time, tapi ternyata lebih dari full time karena kalau sedang menghadapi beberapa job tidak hanya menyita weekend saja, tetapi juga harus bangun malam untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.

Menurutnya, bila kita bisa memanfaatkan kemampuan dan kesempatan yang ada, maka kita harus mengejarnya. “Pengorbanan pasti ada, tinggal bagaimana kita mengatur dan mengakali kondisi yang ada. Satu hal lagi, tentunya kita harus sadar bahwa tidaklah mungkinlah kita mendapatkan semuanya, hanya masalahnya kita harus siap saja dengan resiko yang terjadi. Klise tampaknya. Tapi boleh dicoba”, ujar Mbak Dara memberi semangat.

Sekarang Mbak Dara dikarunia dua orang putra putri yaitu Akbar dan Alia. “Niatnya ingin lebih, tapi ternyata alhamdulilah dua karena gampang diatur dan dirasakan lebih cocok buat pegawai negeri”, tuturnya. Setelah kembali ke Indonesia, anak-anak Mbak Dara masuk ke sekolah negeri, kelas 2 SMP dan kelas 5 SD. Menurut Mbak Dara, kedua buah hatinya itu sudah mulai beradaptasi dengan sangat baik di Indonesia.

Seorang Dara Arif memang merupakan sosok yang multi talented, terbukti dengan seabrek hobby yang ada pada dirinya. Mbak Dara gemar olahraga tennis, tapi karena kesibukan waktu mengurus keluarga, maka sangat jarang dilakukannya sekarang ini. Jalan-jalan juga salah satu hobbynya, tapi Mbak Dara mengaku bahwa dia bukanlah traveler sejati. Memasak pun hanya sekedarnya, menjahit sudah mulai ditinggalkannya, dan membaca hanya sekedar supaya tidak ketinggalan berita.

Ketika menceritakan tentang cita-cita hidupnya, Mbak Dara tampak sangat bersemangat. “Saya masih menyimpan cita-cita besar, pokoknya saya ingin bisa memberikan manfaat lebih banyak bukan hanya buat orang-orang tercinta, tapi kalo bisa Insya Allah bisa lebih luas lagi”.

“Secara umum saya senang sekali berada di buletin. Menurut saya dengan menjadi anggota redaksi ‘memaksa’ kita belajar lebih banyak. Saya jadi lebih menyadari kalau menulis itu menyenangkan. Apa lagi pakai bahasa Indonesia , bukan buat essay buat David (guru kursus bahasa Inggris mbak Dara di London-red) yang in English”, candanya.

“Tidak hanya belajar menulis, tetapi juga bagaimana menggali dan mencari informasi, dan bagaimnana menggunakan bahasa yang baik. Sedikit-sedikit kita punya idealisme. Mudah-mudahan manfaatnya bukan hanya untuk DWP KBRI London, atau DWP DEPLU saja, tapi bisa menjangkau lebih luas lagi”, demikian ungkapnya ketika Mbak Dara bercerita tentang pengalamannya aktif sebagai salah satu personil Tim Buletin.

“Satu hal lagi”, tambahnya, “Pergaulan antar sesama anggota redaksi sangat luar biasa, tercipta rasa saling pengertian yang mendalam dan semangat tolong-menolong. Belajar bagaimanan saling memberikan semangat, memberikan umpan balik yang baik dan juga bagaimana mengatur sumber daya yang ada.”.

Ibu muda yang penuh semangat ini juga memberikan pendapatnya tentang organisasi Dharma Wanita Persatuan. “DWP adalah organisasi yang unik karena anggotanya sangat beragam, maklum khan para isteri home staff DEPLU berasal dari beragam latar belakang. Dari pengalaman saya mengamati bahwa bagaimana iklim di organisasi ini sangat ditentukan oleh anggota atau pengurusnya, terutama oleh Ibu Ketuanya”, ujar Mbak Dara.

“Saya bersyukur sekali selama menjadi pengurus DWP KBRI London, saya punya pengalaman yang sangat berharga dan menyenangkan. Suasananya secara umum selama 4 tahun tersebut enak sekali dan solid. Mungkin pada dasarnya sebagai pengurus kita sebaiknya punya semangat berbagi, tolong menolong dan sebenarnya banyak kesempatan belajar serta memperluas wawasan dan pergaulan”.

Banyak sekali peluang yang ada. Namun menurut Mbak Dara, fungsi pertama kita adalah sebagai ibu yang punya tanggung jawab rumah tangga dan anak-anak. Karena itu kita harus pandai mengatur waktu. Terutama pada saat kita di luar negeri, kita harus bisa membantu misi DEPLU di luar negeri, terutama karena perwakilan kadang mengalami kekurangan sumber daya. “Senang kan kalo bisa membantu, juga mudah-mudahan bisa menambah rasa penghargaan terhadap diri kita. Untuk kita secara pribadi, hal ini bisa kita manfaatkan sebagai arena belajar, mencari pengalaman, dan pengembangan diri sendiri juga”.

Di satu sisi Mbak Dara masih menyimpan harapan agar organisasi DWP ini lebih berkembang dan memberikan manfaat lebih banyak bagi anggotanya, bukan hanya untuk sebagian kecil saja yang kebetulan menjadi orang penting di organisasi ini, misalnya. Dimana-mana sekarang organisasi yang bertahan adalah yang bersifat terbuka, komunikasi yang baik antar unsur-unsurnya, aspiratif, dan manfaatnya dirasakan oleh para anggotanya.

Pesan terakhir dari Mbak Dara adalah, “Marilah kita menarik manfaat sebesar-besarnya dari peluang yang ada, malah katanya peluang bisa kita buat sendiri. Ada kesempatan bersekolah misalnya, mengapa tidak? Senang berorganisasi misalnya, ayo kita jalani. Setelah saya memasuki umur ‘setua’ ini, terasa sekali betapa singkat sebenarnya umur manusia”.

Demikian Mbak Dara menutup wawancara ini. Profil Mbak Dara yang terasa memang selalu bersemangat dalam segala hal, lugas dan selalu bicara terus terang. Selamat jalan Mbak Dara, semoga Mbak Dara tetap bisa menjalankan tugas sebagai ibu dan istri yang baik, mendampingi suami sehingga berhasil dalam karir dan semoga berhasil menjadi ibu yang baik buat kedua buah hatinya.

*Oleh Farah Dewi Novan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s