KESTY PRINGGOHARJONO

Serat Centhini, naskah klasik kumpulan tulisan para pujangga diketuai oleh Sunan Pakubuno V (pada saat itu masih menjadi Putra Mahkota), menceritakan kehidupan orang Jawa secara menyeluruh. Terdorong untuk mengetahui lebih jauh mengenai karya sastra penting tersebut, Kestity Adyandini Pringgoharjono, profil wanita kita kali ini, melakukan riset dan menuangkannya kembali dalam buku “The Centhini Story, the Javanese Journey of Life”. Pada siang yang cerah itu, di antara kesibukannya mengurus kepindahannya beserta keluarga ke Korea, Ibu Kesty bersedia ditemui di rumahnya yang asri untuk diwawancarai.
 

MENDALAMI SENI DAN BUDAYA

Berlatar belakang pendidikan di bidang keuangan (Master of Applied Finance dari salah satu universitas di Sydney Australia) dan sempat bekerja di beberapa bank asing ternama di Jakarta sekaligus mengajar mata kuliah Manajemen Lembaga Keuangan di almamaternya FE UI. Seperti merasa terpanggil untuk merubah haluan kariernya menjadi seseorang yang menyelami seni dan budaya Indonesia pada saat tinggal di luar negeri mengikuti tugas suami, Mulyono Pringgoharjono, yang bekerja di Singapura. Pada saat itu, tahun 2000, Singapura sedang giat-giatnya berpromosi menjadi pusat budaya di Asia Tenggara dan sedang dibangun museum terbesar di Asia, the Asian Civilisation Museum. Ibu Kesty memutuskan menjadi dosen di Singapore Art Museum dan mengajar tentang South East Asian Art. Lembaga ini banyak memberikan pelatihan kepada para dosen secara gratis dengan menyediakan pengajar kaliber dunia. Pemerintah Singapura sendiri membuat banyak program untuk menarik orang asing yang tinggal disana agar mau berkecimpung di bidang seni.

Ayah saya, Haryono, adalah seorang kolektor barang seni budaya Indonesia, sehingga semenjak kecil sudah terbiasa dan didorong untuk untuk mengetahui seni budaya. Tetapi waktu itu belum terlalu tertarik dan belum menghargai, baru ketika berada di Singapura saya terdorong untuk terjun mendalami seni budaya Indonesia. Apalagi melihat kenyataan bahwa orang di luar negeri lebih peduli pada kekayaan seni budaya Indonesia dibandingkan dengan kita orang Indonesia sendiri yang terkesan ‘careless’ dan kurang teliti dalam pemeliharaan. Di luar negeri dengan fasilitas yang lengkap ternyata lebih mudah untuk meng-akses mendapatkan informasi seni budaya Indonesia.

Ketika di Singapura inilah ada seorang wanita warga asing memberitahukannya dan Ibu Kesty tidak pernah mendengar perihal Serat Centhini. Hal ini memicunya untuk menekuni karya ini lebih jauh. Dimulailah penggarapan ‘project’-nya untuk menuliskan kembali ringkasan Serat Centhini pada tahun 2003 dalam gaya kontemporer dan berbahasa Inggris. Pada saat melalukan penelitian, ditemukan fakta bahwa hanya generasi kakeknya yang tahu tentang naskah ini dimana kitab aslinya tersimpan di keraton Surakarta dan Yogyakarta.

The Centhini Story, diluncurkan pada tahun 2006 dengan edisi pertama dicetak 5000 ‘copies’ dan menjadi ‘best seller’, merupakan hasil gabungan dari 3 orang dari 3 generasi berbeda yang berdiam di 3 benua berbeda, Bapak Soewito Santoso seorang ahli yang mengerti isi naskah asli Serat Centhini berdiam di Australia, Fendy Siregar sang fotografer tinggal di Indonesia dan saya sendiri yang sudah pindah ikut suami tinggal di Inggris. Sebenarnya minat orang di luar negeri akan budaya Indonesia sangat tinggi namun ‘supply’ yang tersedia sangat minim. Saya mengharapkan informasi seni budaya Indonesia yang kebanyakan sifatnya masih akademis agar lebih banyak lagi diolah menjadi bersifat ‘general public’ supaya lebih popular.

Baru-baru ini pada bulan September 2007, Ibu Kesty diundang sebagai salah satu pengisi acara di ajang bergengsi ‘Ubud Writers and Readers Festival’ dimana para penulis dan penerbit dari seluruh dunia berkumpul di Bali. Kegiatannya saat ini adalah mengerjakan sebuah buku yang akan diterbitkan dalam waktu dekat dan  mengatur terselenggaranya ‘mini festival’ tentang Indonesia bekerja sama dengan Asia House London pada Oktober 2008. Kesibukannya ditambah dengan mengelola perusahaan yang didirikan pada tahun 2003, PT. Preserve Indonesia, yang bertujuan melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia di luar negeri.

Orang Indonesia memiliki kelemahan dalam penyelenggaraan acara seni budaya, yaitu kurangnya manajemen yang baik terutama dalam menentukan ‘target audience’ sehingga pesan yang dibawa tidak tersampaikan secara maksimal. Juga, seharusnya tugas mempromosikan negara kita bukanlah tugas pemerintah semata, sebaiknya kita semua turut membantu dengan segala cara dalam kapasitas masing-masing. Kita seharusnya bangga sebagai bangsa yang memiliki banyak kelebihan.

MENJADI SEORANG IBU DAN HIDUP MENGALIR SEPERTI AIR

Ibu dari 2 anak, Alex Priggoharjono (6 th) dan Kalara Pringgoharjono (2) tahun, sangat menikmati dan berusaha menjalani menjadi seorang ibu dengan sebaik-baiknya. Merasa beruntung dengan tinggal di luar negeri yang justru mendekatkan dirinya dengan kedua anaknya dan lebih berfungsi sebagai ibu karena kurangnya campur tangan dari keluarga besar.

Peringatan Hari Ibu itu bisa dijadikan sebagai ‘reminder’ untuk ibu-ibu bahwa menjadi seorang ibu adalah suatu proses alamiah yang harus dijalani. Sebagaimana tertuang dalam Serat Centhini, menjadi ibu adalah bagian dari ‘journey of life’. Jalani yang terbaik dan jadikanlah anak sebagi prioritas utama, karena anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga bagaimana pun keadaan anak kita.

Memiliki suami yang bekerja sebagai ekspatriat di Standard Chartered Bank, membuat hidupnya bersama keluarga berpindah dari satu negara ke negara lain.

Karena nasib saya hidup berpindah-pindah, jadi saya hidup mengalir seperti air, harus bisa menyesuaikan diri dan tidak merasa berat dalam melakukan sesuatu, ‘do the best we can’ dimana pun kita berada. Lagipula jaman sekarang sangat mudah untuk berkomunikasi, sebagaimana sistem ‘remote controlling’, semua bisa dijalankan walaupun jarak berjauhan.  

Pada pertengahan Desember ini, Ibu Kesty beserta keluarga akan berangkat meninggalkan London dengan berpindahnya tugas suami ke Korea. Selamat jalan, semoga karya dan perjalanan hidup Ibu Kesty akan terus membanggakan Indonesia.

*Oleh: Titi Iman (Wawancara: Titi Iman dan Shinta Samudera)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s