TUHAN DAN KAUM PEREMPUAN

Salah satu topik menarik yang sering didiskusikan di dalam kehidupan manusia adalah masalah kaum perempuan. Makhluk Tuhan yang satu ini memang merupakan bahan diskusi yang menyenangkan, terutama bagi dunia kaum lelaki, termasuk di kalangan lelaki muslim. Perempuan sebagai makhluk Tuhan sering mendapat penilaian yang anomali. Karena keindahannya mereka kerap dipuja dan diagungkan, menjadi inspirasi bagi banyak karya-karya seni, menjadi motivasi bagi para politisi dan pemikat dalam dunia bisnis. Namun karena kelemahannya perempuan juga kerap mengalami eksploitasi dan menjadi komoditas perdagangan.

Posisi kaum perempuan dalam hubungannya dengan dunia lelaki cukup rumit untuk dibentangkan. Ada kesan dunia ini seolah-olah diciptakan untuk laki-laki dan perempuan menjadi bagian dari pemilikan dan kekuasaan kaum laki-laki. Secara empiris fenomena ini didukung oleh fakta-fakta sosial. Bahkan agama juga memberikan kesan yang tidak jauh dari fenomena ini. Tuhan ketika mengenalkan diriNya kepada manusia juga secara linguistik menggunakan simbol bahasa laki-laki. Dalam bahasa Ibrani, bahasa Arab dan bahasa Inggris Tuhan merepresentasikan diriNya dalam jenis kelamin laki-laki, seperti Huwa bukan Hiya; atau He bukan She. Bahkan dalam bahasa Kristiani Tuhan dipanggil dengan Father atau Bapa, sehingga kesan Tuhan yang serba perkasa mencitrakan kemaskulinitasan yang sejati. Sebagai makhluk pertama yang diciptakan Tuhan Adam juga diciptakan dengan jenis kelamin laki-laki. Sebaliknya kaum perempuan terlanjur dicitrakan sebagai Hawa yang diperdaya oleh setan untuk mempengaruhi Adam sebagai simbol laki-laki. Ini bertambah lengkap dengan kenyataan bahwa Tuhan mempercayakan kaum lelaki untuk menjadi Nabi dan RasulNya dalam upaya mengemban risalah Tuhan.  

Sebagai konsekuensi dari gambaran di atas maka ada kesan muncul bahwa kaum perempuan tidak diurus oleh Tuhan dengan kata lain perempuan tidak mempunyai akses langsung kepada Tuhan. Hubungan mereka dengan Tuhan harus melewati kaum laki-laki. Bahkan banyak ceramah para kyai dan ustaz meletakkan sukses tidaknya kaum perempuan dalam kehidupan akhirat ditentukan dari bagaimana restu suaminya kepada dirinya. “Bila seorang isteri meninggal dalam keadaaan disenangi suaminya maka dia akan masuk ke dalam surga”. Begitu kata para kyai. “Salah satu tanda perempuan soleh adalah patuh kepada suami”.

Kalau diteliti dengan seksama fenomena di atas lebih banyak dipengaruhi oleh cara membaca teks suci yang male-oriented. Mestinya kalau dengan menggunakan approach yang lain kesan itu akan hilang atau paling tidak menghasilkan balance view. Dalam bahasa Al-Qur’an ketika Tuhan memakai kata Huwa itu tidak mewakili jenis kelamin karena Dia menyatakan “walam yakun lahu kufuwan ahad” (tidak ada yang menyerupai semisalnya.” Semua Rasul laki-laki tapi tidak ada bukti bahwa semua Nabi tidak ada yang perempuan. Meskipun semua Rasul laki-laki tapi Ibu mereka semua perempuan. Dalam Al-Qur’an citra perempuan sebagai history makers juga cukup dominan. Hawa sebagai perempuan pertama tidak explisit dianggap salah oleh Allah, justru Adam yang kena tegur. Ada ratu Balqis. Ada ibu Nabi Musa yang menyelematkan anaknya dari Firaun. Ada keluarga Imran yang istrinya berperan sangat sentral. Ada Maryam Ibu nabi Isa yang fenomenal. Lalu perempuan di sekitar nabi Muhammad yang sangat vital bagi misi kenabiannya, Aminah ibunya, Khadijah istri pertamanya dan Aisyah sebagai ummul mukminin yang cerdas. Hebatnya keagungan perempuan diabadikan Tuhan dalam Al-Qur’an dengan satu surat yang bernama Al-nisa’ (perempuan).

Oleh karena itu sangat keliru pandangan yang menyatakan Tuhan meletakkan perempuan sebagai makhluk kelas dua. Di mata Tuhan jenis kelamin tidak menghasilkan keistimewaan apa-apa baik dalam kehidupan dunia apalagi akhirat. Keunggulan manusia ditentukan oleh tingkat kontribusi yang mereka berikan di dalam kehidupan nyata di muka bumi, tidak karena jenis kelamin, tidak karena ras, suku, bangsa dan formalitas agama. Dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan amal saleh. Sekian Wassalam.

 

* Oleh Faisar A. Arfa

Penulis Dosen pascasarjana IAIN SU Medean & UMSU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s