DR. FAISAR ANANDA ARFA

 

 ‘Jangan sebut saya ulama, saya lebih senang jika dipanggil intelektual muda Islam’, demikian ujar Dr. Faisar Ananda Arfa, ustad yang diundang oleh KBRI London untuk mengisi kegiatan agama selama Ramadhan 2007. Kesan yang kami tangkap selama mendengar dakwah beliau adalah cara pandang baru yang rasional terhadap berbagai  masalah yang kadang terasa berlawanan dengan penafsiran yang selama ini tertanam di kepala kami.  

Beliau menempuh pendidikan dasar dan menengah di dua sekolah, yaitu sekolah umum dan madrasah, sehingga ‘saya memiliki enam buah ijazah’, candanya. Semenjak belia, beliau sudah menunjukkan ketertarikan pada agama dan berkeinginan untuk menjadi ulama. Beruntung ibunda beliau memberikan dorongan untuk cita-citanya ini, walaupun sejak dahulu ada anggapan bahwa pekerjaan pendakwah tidak dapat menopang hidup. ‘Setelah beristirahat sebentar sepulang dari sekolah umum, saya langsung bersepeda menuju madrasah. Bahkan kadang saya sengaja tidur dengan menggunakan sepatu agar tidak tertidur pulas sehingga tidak terlambat pergi ke madrasah.’ Beliau sudah mulai berdakwah ketika duduk di sekolah menengah, malah kadang-kadang guru meminta beliau untuk berceramah di depan kelas. Selama perjalanan karirnya Bapak Ananda pernah memberikan ceramah di Perwakilan RI di Ottawa, Toronto dan Washington DC, selain di kota Medan sendiri.

‘Tantangan sebagai intelektual muda adalah dalam membangun paradigma baru tentang Islam’. ‘Islam di Indonesia dapat dikatakan stagnan, karena berkembang pemikiran bahwa tidak diperlukan lagi adanya pembaharuan. Pemikiran mengenai Islam dianggap sebagai ‘blue print’, sudah sempurna sehingga tidak diperlukan lagi pemikiran ulang. Anggapan ini tentu menghambat kesejalanan antar ajaran Islam dengan perkembangan dunia global, sehingga seolah2 ada kesenjangan antara Islam dengan persoalan dunia. Inilah akibat dari menerapkan pendapat ulama dahulu pada zaman sekarang’ jelas beliau mengenai perkembangan Islam di Indonesia dewasa ini.

Ulama yang gagal bersekolah di Kuwait ini karena di’geser’ orang lain (‘Malah akhirnya saya dikirim ke Amerika’, katanya) dibesarkan di kota Medan dan menikah dengan wanita asal Jakarta. Bapak dari tiga putera-puteri ini (usia 15, 12 dan 11 tahun) menamatkan strata satu di IAIN Medan jurusan Syariah. Pada tahun 1995, beliau berhasil memperoleh master degree dari Mc Gill University Montreal dengan mendalami bidang Hak Azasi Manusia dan Hukum Islam. Pada tahun 2001 beliau melanjutkan jenjang S3 di IAIN Jakarta dan berhasil memperoleh gelar Doktor. Terakhir beliau mendapat beasiswa Fulbright di University of Richmond, Virginia. Saat ini beliau adalah Ketua Program Studi Ekonomi Islam di IAIN almamaternya dengan pangkat sebagai lektor kepala.    

‘Wanita Islam di Indonesia lebih beruntung jika dibandingkan dengan wanita di negara Islam lain seperti di Afganistan misalnya. Wanita Indonesia telah memperoleh empowerment lebih dan berpeluang lebih aktif di dunia publik’ demikian penjelasan beliau mengenai perkembangan wanita Islam Indonesia. ‘Yang menjadi tantangan besar bagi wanita Islam di Indonesia adalah masalah pendidikan di mana untuk melanjutkan sekolah, masyarakat masih mengutamakan anak lelaki dari pada anak perempuan. Hal ini juga terkait dengan  adanya anggapan masyarakat bahwa setinggi apa pun pendidikannya, anak perempuan akhirnya akan ke dapur juga’. Demikian penjabaran beliau mengenai tantangan dalam perkembangan wanita Islam Indonesia.

Dalam kaitannya dengan perkembangan wanita ini, beliau juga menekankan bahwa hubungan antar suami isteri selayaknya bersifat partnership, yaitu adanya kesetaraan antar suami isteri terutama untuk tujuan kebaikan.

‘Ketika saya di Amerika ada harapan bahwa Islam akan bangkit di Amerika. Namun ketika sampai di sini saya melihat bahwa di Eropa peluang kebangkitan Islam lebih besar. Perkembangan Islam di Indonesia itu stagnan dan terikat kultur. Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam tarekat yaitu yang lebih mementingkan aspek ritual ibadahnya dan kurang mengemukakan aspek kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Hal ini diperparah oleh infrastruktur dan situasi politik kita sehingga sulit jika mengharapkan kebangkitan Islam terjadi di Indonesia. Pendapat ini tentunya banyak ditentang orang. Namun tentunya kita tidak boleh pesimis ….’

Dari pada berdakwah beliau mengakui lebih banyak menjadi pembicara pada seminar yang membahas isu-isu politik dan masalah global. Bapak Ananda juga aktif di dalam Ikatan Sarjana Ekonomi Islam, Badan Perwakafan Sumatera Utara dan sekaligus menjadi ketua yayasan pendidikan  El Zahra yang mengayomi SMP, SMA dan STM, yang berorientasi pada anak-anak dari keluarga tidak mampu. Namun beliau tetap mengakui lebih banyak berada di kampus  (‘Saya ini pemuda kampus’  ujarnya).

Menjawab pertanyaan tentang perkembangan beragama di luar negeri, beliau menjelaskan ‘Tantangan menjalankan agama di luar negeri tentunya lebih berat karena keragaman masyarakat dan kondisi alamnya, namun tentunya dibalik tantangan yang besar insya Allah akan memperoleh pahala yang besar pula.’ ‘Saya melihat minat umat Islam dalam mendengar ceramah agama cukup menggembirakan. Mungkin malah dengan tantangan ini, orang baru bisa menemukan Tuhan di luar negeri, karena bisa jadi di Indonesia kita menjadi tidak peduli’

Menutup wawancara ini beliau berpesan pada pembaca Buletin ini ‘Dengan adanya surat An Nisa, berarti ada penghormatan khusus Tuhan kepada wanita. Wanita adalah tiang negara. Wanitalah yang menjadi penyelamat bangsa dan negara. Oleh karena itu marilah kehormatan sebagai wanita dijaga sebaik-baiknya’

Selama kunjungan beliau di London, selain mengisi kegiatan pengajian dan buka puasa bersama di KBRI setiap akhir pekan dan di beberapa kelompok pengajian lainnya baik di London mau pun di luar London, dua kali seminggu Senin dan Rabu beliau membimbing ibu-ibu dalam mengaji dan mengkaji Al Qur’an. Sesi ini tentu saja menarik karena selain lebih memahami Al Qur-an juga merupakan pencerahan bagi kami. Banyak penafsiran yang tertanam bertahun-tahun, namun sebenarnya harus terus tetap di ‘challenge’. Terima kasih Bapak atas bimbingannya selama Ramadhan ini. Semoga inspirasi untuk terus mengkaji ajaran dalam Al Qur’an tetap menyala di hati kami semua.

 

*Oleh Dara Arief, berdasarkan wawancara yang dilakukan bersama Titi Iman dan Shinta Samudera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s