Wawancara bersama Bapak Djamalullail

Terkait datangnya bulan suci ramadhan, Buletin Online DWP KBRI London berencana menampilkan profil seseorang yang kiprahnya dalam syiar agama Islam sangat penting. Jika tahun lalu kami menampilkan sosok ustadz Lutfi yang mengisi kegiatan umat Islam Indonesia di London, maka Ramadhan tahun ini kami ingin menampilkan Bapak Djamalullail (selanjutnya akan disebut sebagai Pak Djamal). Beliau adalah sosok penting yang berperan besar dalam menggerakkan kegiatan keagamaan Islam di lingkungan KBRI khususnya, dan di London pada umumnya.

1. Bagaimana latar belakang Pak Djamal sehingga sampai saat ini menetap di London?

Saya datang ke Inggris tanggal 1 Mei 1990 dengan niat untuk belajar bahasa dan apabila memungkinkan untuk melanjutkan studi S2. Yang mengajak saya ke Inggris adalah Tante saya (adik dari Ibu) yang bersuamikan orang Inggris dan memang sudah menetap lama disini. Saat itu saya berangkat ke Inggris dengan berbekal Visa Tourist (6 bulan) dengan informasi yang didapat dapat dirubah menjadi Visa Student setelah mendapatkan sekolahnya. Namun setelah tiba disini ternyata Visa yang sudah ada tidak bisa dirubah dan kalau mau harus pulang dulu ke Indonesia. Dengan ijin tinggal yang sudah semakin habis ditelan waktu, saya mencoba melamar ke KBRI London. Pada saat yang bersamaan KBRI London sedang melakukan perpindahan pegawai dari satu bagian ke bagian lainnya, salah satu bagian yang masing kosong adalah keuangan. Berbekal latar belakang pendidikan dibidang manajemen perusahaan, Alhamdulillah saya diterima bekerja dengan masa percobaan 3 bulan dan sekaligus KBRI London membantu mengurus ijin tinggal saya. Tidak terasa bekerja dan menikmati kehidupan London eeh jadi keterusan sampai hari ini.

2. Bagaimana awal mulanya sehingga Pak Djamal aktif dalam kegiatan keagamaan di London, di KBRI pada khususnya?

Setibanya di Inggris, Tante saya sering mengajak untuk mengikuti pengajian mingguan (ibu-ibu) dan bulanan yang diselenggarakan masyarakat Indonesia di London, yang tempatnya berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya, dan kadang-kadang juga diadakan di gedung KBRI London. Pada saat itu saya juga diperkenalkan kepada Bapak Hamim Syaaf dan Bapak Saleh Umar yang bekerja sebagai pegawai tetap KBRI London dan telah lebih dahulu aktif berdakwah. Kemudian mereka mengajak saya ikut bergabung membantu dakwah tersebut.

Nah setelah saya diterima bekerja di KBRI London, jadilah kegiatan syiar agama itu dibangun bersama-sama dengan Bapak-bapak dan Ibu-ibu masyarakat Indonesia yang sudah ada terlebih dahulu, terutama dari para Pegawai KBRI London, baik para diplomat maupun para pegawai setempat.

Kemudian kami juga bersama-sama aktif membentuk organisasi ICMI, yayasan Indonesian Islamic Centre (dulunya Indonesian Islamic Society), yaitu yayasan yang bercita-cita untuk membangun sebuah pusat kegiatan islam masyarakat Indonesia yang ada di Inggris.

3. Di dalam kepengurusan kegiatan keeagamaan Islam KBRI, Pak Djamal menjabat sebagai apa?

Saya sebenarnya sih tidak punya jabatan apa-apa dalam kepengurusan pengajian ini, namun teman-teman banyak yang mengarahkan saya mengerjakan kesekretariatan.

4. Apakah tujuan atau sasaran utama yang ingin dicapai dalam kegiatan keagaamaan di KBRI, khususnya dalam bulan Ramadhan ini?

Niat utama teman-teman yang berkecimpung dalam dakwah islam ini adalah agar masyarakat Indonesia yang sedang merantau di negeri barat, khususnya Inggris yang mayoritas non muslim dan dengan kehidupan yang sangat bebas ini, tetap tidak melupakan keimanan yang dianutnya dan tetap menjalankan perintah serta larangan yang diperintah Allah SWT. Kami menyadari tantangan ini sangat tidak mudah, namun dengan tekad bulat dan niat ikhlas Insya Allah usaha syiar Islam dari teman-teman kami akan mendapatkan pertolongan dan bantuan Allah.

Dalam bulan Ramadhan ini, kami mencoba melakukan syiar Islam lebih rutin lagi dari yang sebulan sekali menjadi seminggu sekali. Disamping mendengarkan ceramah Ramadhan setelah berbuka puasa bersama, dilanjutkan dengan shalat Isya dan tarawih berjamaah.
5. Apakah ada pengalaman spiritual yang sangat berkesan bagi Bapak?

Saya teringat sewaktu untuk pertama kalinya pergi haji tahun 1995 bersama istri dan rombongan masyarakat Indonesia dari Inggris. Sewaktu menjalani tawaf bersama istri kami mencoba untuk mendekati Hajar Aswad untuk mencium batu tersebut, namun seperti kita ketahui puluhan ribu jamaah haji berusaha untuk melakukan hal yang sama dengan potongan tubuh yang besar dan kekar, tentunya kami yang kecil ini sering terdorong kembali keluar lingkaran terdekat sampai akhirnya istri saya menyerah tidak mau meneruskan lagi. Akhirnya saya mencoba sendiri dan berdo’a kepada Allah, apabila Allah mengizinkan insya Allah saya dapat mendekati dan mencium batu tersebut. Setelah itu nampak seorang peminta-minta yang lewat dihadapan saya, kemudian dengan ikhlas saya memberikan sedekah kepadanya. Saya kemudian mencoba sendiri dengan terus berdo’a kepada Allah. Akhirnya Alhamdulillah saya berhasil mencium batu tersebut. Saya juga Alhamdulillah dapat melakukan shalat sunnat didepan Maqam Ibrahim, tanpa diinjak-injak ribuan jamaah yang terus mengitari Kabah tersebut dan berjalan didepan atau disamping saya yang sedang shalat. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah mengabulkan niat hambanya melakukan ibadah dengan selamat dan lancar.

6. Apakah hikmah menjalani ibadah Ramadhan jauh dari tanah air?

Prinsip ibadah Ramadhan baik di Indonesia maupun di Inggris sama saja, bagaimana kita menahan godaan atau nafsu yang menyerang pada bagian fisik dan rohani/keimanan. Karena biarpun kita tinggal di Indonesia, kalau keyakinan/iman tidak mendukung sama saja. Bedanya, di Inggris kami merasakan puasa dari tahun ke tahun selalu berlainan cuaca atau musim. Di awal-awal tahun saya datang, puasa terjadi bulan April, yaitu musim semi, udara tidak panas dan juga tidak dingin. Kemudian masuk puasa di musim dingin (November s/d Februari) meskipun dingin tapi tidak terasa karena bukanya cepat (subuh masih jam 6-7, buka jam 4-5). Nah sekarang mulai memasuki musim gugur dan panas, puasa lebih panjang (subuh jam 4-5, maghrib jam 7-9.30), insya Allah saya dan keluarga serta masyarakat muslim lainnya disini bisa mengikutinya.

7. Tempat dan tanggal lahir? Nama istri dan anak?

    Lahir di Jakarta, 11 Nopember 1964

    Nama istri: Ade Laxmita Djamalullail

    Anak: Rania Nisrina Djamalullail dan Muhammad Alfatih Djamalullail

8. Bagaimanakah latar belakang kehidupan keagamaan dalam keluarga Pak Djamal?

Orang tua saya mendidik agar supaya kami menjalankan syariat agama dengan disamping sekolah umum (SD) pagi hari, sore harinya juga sekolah agama (madrasah). Karena mereka menyadari pendidikan yang di ajarkan di rumah kadang-kadang tidak cukup karena kesibukan mereka mencari nafkah dan mengurus anak-anaknya yang lain. Alhamdulillah lingkungan kami di Jakarta juga ikut mendukung dalam arti teman-teman sebaya waktu kecil banyak juga yang sama-sama disekolahkan agama, serta tempat tinggal kami di Jakarta banyak sekali kegiatan-kegiatan pengajian dan aktifitas agama yang bisa dimanfaatkan.

9. Bagaimana Pak Djamal mendidik anak-anak khususnya dalam menjalankan ajaran agama? Apakah tantangannya?

Saya dan istri mencoba mulai memberi pelajaran dengan melaksanakan sholat berjama’ah bersama terutama waktu Maghrib dan Isya, mengajarkan tentang sopan santun dan adab dalam berteman, membandingkan dan menjelaskan contoh-contoh yang sering disiarkan dalam TV dalam pandangan agama. Kami juga memasukkan anak-anak di sekolah agama (madrasah) yang Alhamdulillah letaknya tidak jauh dari rumah seminggu 2 kali, hari Kamis sore dan Sabtu pagi.

Mendidik anak susah susah gampang, karena kalau kita kaku (dalam mengontrol “persepsi agama”) mereka terlalu dikekang dengan aturan-aturan yang sebenarnya mereka sendiri belum menyadari. Namun kalau dilepaskan (kontrolnya) mereka akan jadi terbiasa dengan hal-hal yang sebenarnya dalam ajaran kita tidak diperbolehkan, apalagi teman-teman sebaya mereka (dalam sekolah) yang rata-rata non muslim tidak mengenal/mempelajari agama.

10. Apakah yang dilakukan Pak Djamal di waktu luang? Hobi?

Kalau musim gugur atau panas saya suka berkebun, menanam bunga dan membersihkan rumput yang kadang-kadang kalau tidak dipotong setelah musim dingin tingginya bisa mencapai 1/2 meter. Waktu-waktu kosong biasanya saya isi dengan melakukan olah raga badminton, bola, jogging, dan mengajak anak-anak main di taman (play ground) dekat rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s