Fenty Sutiono

foto koleksi pribadiDi tengah kesibukan mempersiapkan kepulangan ke tanah air setelah masa tugas suami tercinta Bapak Pribadi Sutiono sebagai Counsellor Penerangan di KBRI London berakhir, Mbak Fenty menerima saya untuk berbagi pengalaman di kediamannya  sebagai bahan profil bulan ini. Sebagaimana biasa, dalam kesempatan ini ibunda dari Ifa (16 tahun), Isha (12 tahun) dan Ino (6 tahun) berbicara antusias, apa adanya serta diselingi canda tawa…

‘Half-half…’ demikian katanya ketika ditanya mengenai perasaan dalam menyambut kepulangan ke tanah air. ‘Ada rasa exciting, namun di sisi lain tentu ada rasa sedih karena harus meninggalkan teman-teman, terutama buat anak-anak seperti yang Ifa bilang ini adalah my beloved London…Di sini ada rasa feeling safe, semua tersedia ….tapi mereka juga mengerti this is a cycle of life… semua tentunya sudah siap kembali…’   

Ketika menceritakan tentang kesibukan yang akan dihadapi di tanah air, Mbak Fenty tampak bersemangat. Beliau memiliki sebuah child care bernama  ‘Rumah Kita’ yang terletak di wilayah Indra Prasta, Bantar Jati, Bogor, kota kediamannya, yang sejak tahun 2006 menempati gedung baru dengan halaman yang lebih luas.  Child care yang diperuntukkan untuk anak berusia 4 tahun ke bawah ini didirikan setelah kembali dari penempatan pertama di Tokyo pada tahun 1998. Pada awalnya child care ini didirikan agar tidak ‘bengong’ di rumah setelah anak-anak mulai bersekolah serta untuk memanfaatkan mainan milik anak-anak yang cukup banyak. Namun bisnis yang dimulai dari hanya menerima titipan anak kakak dan teman dekat ini ternyata menjadi ‘bisnis serius’ Mbak Fenty saat ini, yang tetap beroperasi walau pemiliknya berada di luar negeri. ‘Ini adalah berkat memiliki teman se-ide dimana dialah yang sekarang mengelola child care ini’ ujarnya.. ‘Gagasannya sekolah ini ditujukan untuk golongan menengah ke bawah, karena untuk anak dari keluarga menengah keatas tentunya pilihan sekolah sudah banyak sekali. Menurut saya anak-anak harus dapat menikmati usia kanak-kanak mereka yang penuh keriangan, walau mungkin orang tua mereka susah, tapi mereka tetap harus fun. Mereka yang masih belia tidak boleh dijejali pelajaran yang memberatkan yang sangat disesali terjadi di banyak sekolah di tanah air’. ‘Dalam menunjang misi sosialnya, sekali seminggu child care ini dibuka untuk masyarakat setempat secara cuma-cuma’. Demikian Mbak Fenty menjelaskan tentang idealisme dan kegiatannya di tanah air.

Ibu muda ini ternyata senang berolah raga ‘punya talent kali ya…’, candanya. Tidak heran banyak di antara ibu-ibu yang iri akan tubuh yang ramping dan berisi yang ternyata adalah hasil upaya dari senam dan jogging yang dilakukan secara rutin. Di setiap kegiatan anak-anak mengisi acara tujuh belasan, seperti dance dan aubade, beliaulah yang selalu melatih mereka.

‘Pertama kali bergabung di Dharma Wanita saat penempatan di Tokyo, saya terkaget-kaget karena kelompok saya harus membuat perkedel sampai 3000 buah’, demikian ungkapnya ketika memulai pembahasan mengenai Dharma Wanita Persatuan. Ternyata Mbak Fenty memiliki ide yang menarik mengenai organisasi ini. ‘Menurut saya Dharma Wanita cenderung lebih sesuai untuk ibu-ibu yang lebih senior’, katanya. Lho, mengapa?. ‘Ibu-ibu yang lebih muda pada umumnya mempunyai waktu luang yang lebih sedikit karena anak-anaknya masih kecil sehingga membutuhkan lebih banyak perhatian, seperti misalnya antar jemput sekolah. Di samping itu yang lebih muda umumnya juga lebih bersemangat untuk melanjutkan pendidikan. Sementara ibu-ibu yang lebih senior mungkin waktu luangnya lebih banyak karena anak-anak sudah besar sehingga why not lebih aktif bergabung. Bukan saya anti-reformasi yang katanya sekarang siapa saja bisa menjadi ketua, namun tetap sulit bagi yang lebih yunior untuk memimpin yang lebih senior karena realitanya di masyarakat kita masih besar rasa sungkan dan kecenderungannya orang lain masih melihat siapa dan apa jabatan suami kita’. ‘Ibu-ibu yang suaminya lebih senior umumnya pendapat dan kata-katanya khan lebih didengar’. Demikian penjelasannya.

Melanjutkan obrolan ini Mbak Fenty berpesan ‘Dharma Wanita Persatuan ini diperlukan untuk menunjang kegiatan perwakilan RI di luara negeri. Marilah bergabung karena ini adalah realita kita sebagai part of our husband’s job.  Jika satu orang menolak dengan suatu alasan, maka akan tidak fair bagi yang lain, karena tentunya mereka juga sebenarnya memiliki alasan lain untuk tidak bergabung. Toleransi antara kita sangat penting. Bersikaplah relaks dan banyak koq manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan Dharma Wanita ini’.

Demikian Mbak Fenty menutup bincang-bincang ini. Profil seorang Fenty memang unik. Lugas, blak-blakan dan selalu penuh ide, walau idenya kadang agak nyeleneh dan mengundang kontroversi. Selama 4 tahun mengisi satu ruang di pojok hati kami, memang menambah kekayaan warna dan nuansa persahabatan dan organisasi DWP KBRI London. Selamat jalan Mbak Fenty dalam mendampingi suami betugas dan semoga berhasil mengantar anak-anak memperkuat kepakkan sayap mereka.

*Oleh : Dara Arief

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s