Bapak Drs. Nurdin Ibrahim: “Berjuang Dengan Bahasa Indonesia”

Karir cemerlang sebagai interpreter, jurnalis, penulis, broadcaster, language tutor, dan pengusaha, dijalani Bapak Ibrahim sejak muda hingga kini menjelang 71 tahun usia beliau. Tetap produktif di usia yang terbilang senja, rupanya adalah salah satu prinsip hidup beliau yang ingin terus mengamalkan ilmu yang dimiliki sampai kapanpun. Karena ilmu tanpa amal, bagaikan pohon rindang tanpa buah,  begitulah cuplikan peribahasa yang dikutip beliau di sela-sela wawancara kami pagi itu, Kamis 26 Juli 2007 di kediaman beliau di Middlesex, London.

Dengan suara yang menggetarkan pendengarnya, Bapak Ibrahim memperagakan cara penggunaan bahasa Indonesia yang baik kepada kami. Kami seperti tengah mendengarkan seorang pembawa acara radio pemerintah pada tahun 1980an dimana bahasa yang digunakan sangat teratur, rapi, dan efektif. Tak heran, pengalaman beliau bekerja sebagai jurnalis di BBC sejak tahun 1972-1992 telah sangat mematangkan beliau terutama dalam penggunaan bahasa Indonesia baku.

Hingga kini, beliau masih aktif menjadi pengajar bahasa Indonesia bagi beberapa orang yang di antaranya adalah wartawan dari berbagai media terkemuka seperti Financial Times dan Independent, serta Ibu Kartika Soekarno. Dahulunya, beliau mengawali karir di dunia pendidikan sebagai pengajar bidang Sastra Inggris dan Pendidikan di Universitas Sumatera Utara dan ABA (Akademi Bahasa Asing). Latar belakang pendidikan beliau memang sarjana bidang Pendidikan dan Sastra Inggris. Oleh karena itu, dalam karir di dunia pendidikan, beliau banyak menggeluti kedua bidang tersebut.

Selain sebagai pengajar di universitas, tahun 1965-1972 beliau merangkap bekerja sebagai librarian di konsulat Amerika di Medan.  Pada saat bekerja di konsulat Amerika tersebut, beliau sering berpikiran untuk mencari kesempatan meraih pengalaman bekerja di luat negeri. Rupanya cita-cita itu menjadi kenyataan pada tahun 1972, yang  menjadi awal perubahan hidup Bapak Ibrahim, karena pada tahun tersebut beliau direkrut oleh BBC untuk kemudian bekerja di London.

Ketika sudah enam tahun tinggal di London hanya bersama 5 orang anak, maka pada tahun 1978 beliau memutuskan untuk menikah dengan Ibu Elvi Ibrahim. 10 tahun kemudian, bersama istri tercinta, beliau mencoba merambah dunia usaha dengan membuka restoran Balibali yang eksis sejak 1988 hingga kini. Pada saat itu, restoran Balibali merupakan restoran Indonesia pertama yang dimiliki oleh orang Indonesia.

Dengan prinsip bahwa jika ada kemauan, maka semua bisa terwujud, beliau sukses menjadi seorang pengusaha/pedagang, pengajar sekaligus penulis. Sebuah buku karya beliau, yaitu buku panduan mengajar bahasa Indonesia yang telah diterbitkan di London dan terus menjadi rujukan mengajar hingga saat ini.

Mengisi hari dengan segudang aktifitas rupanya terus dijalani Bapak Ibrahim dengan dedikasi dan senang hati. Selain aktif di BBC, beliau menjadi dosen evening class bahasa Indonesia di Politeknik Central London (sekarang University of Westminster) dua kali seminggu. Beliau juga mengajar di The School of Oriental and African Studies (SOAS), di Briefing International Centre, serta mengajar diplomat-diplomat Inggris yang akan bertugas ke Indonesia di Diplomatic Languange Centre FCO (Foreign and Commonwealth Office) hingga tahun 2004.

Ketika ditanya pengalaman beliau memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia di London, beliau menuturkan bahwa pada tahun 1970an orang Indonesia masih sangat sedikit di London. 17 Agutsus diperingati hanya bersama sekitar 50 orang Indonesia. Meski begitu, tidak menyurutkan semangat perjuangan beliau yang ingin terus berjuang demi bangsa Indonesia melalui bahasa dan kepribadian luhur Indonesia, serta melalui makanan Indonesia.

“Kita harus bangga menjadi orang Indonesia, yang menurut saya adalah bangsa yang paling maju dalam berpikir dan sangat kaya khasanah bahasanya. Jika kita berkumpul dengan sesama orang Indonesia, gunakanlah bahasa Indonesia, karena itulah bahasa yang memperkuat persatuan dan menunjukkan martabat kita sebagai bangsa. ,” begitu pesan beliau.

Kepada anak-anak, beliau menekankan agar mereka memahami sejarah bangsa Indonesia dengan baik. Buku-buku sejarah menjadi bacaan wajib di rumah yang harus dikuasai oleh anak-anak, karena menurut beliau kecintaan kepada bangsa bisa tumbuh jika kita mengerti sejarah bangsa. Apalagi Indonesia memiliki sejarah besar sebagai bangsa yang besar, yang tentu hal tersebut patut kita banggakan untuk memompa semangat generasi muda.

Beliau mengharapkan di Inggris ada fasilitasi pengajaran bahasa Indonesia kepada anak-anak Indonesia yang lahir di Inggris. Menurut beliau, hal tersebut adalah salah satu tugas KBRI dimana bisa bersama-sama masyarakat melakukan pembinaan bahasa Indonesia yang baik. Ditambahkan juga bahwa tujuan kita mempelajari bahasa asing, hakikatnya adalah untuk menerjemahkan khasanah bangsa ke dalam bahasa asing tersebut. Jadi untuk mengerti khasanah bangsa, maka kemampuan berbahasa Indonesia adalah mutlak.

Yang terjadi saat ini adalah sebaliknya, dimana anak-anak lebih menguasai dan bangga berbahasa asing daripada berbahasa Indonesia. Di sinilah peran guru sangat penting, tambah beliau.

“Sayangnya, profesi guru saat ini menjadi pilihan terakhir orang Indonesia karena dianggap tidak menguntungkan secara materi. Jika yang terjadi hal demikian, maka otomatis kualitas guru menurun, karena manusia makin menjadi materialistis, tidak lagi memperhatikan kualitas.” Bagi Bapak Ibrahim, di suatu saat guru adalah guru, di saat lain guru adalah murid. Sesungguhnya guru adalah orang yang selalu mau belajar.

Berbagai nasehat sarat makna banyak disampaikan bapak Ibrahim khususnya kepada generasi muda. Salah satunya mengutip kata bijak Bung Karno “Letakkan cita-citamu setinggi bintang”. Dengan demikian kita bisa sukses meraih keberhasilan hidup, asalkan mau berusaha meraihnya. Berlomba-lomba dalam memperkaya pengetahuan daripada memperkaya materi, juga ditekankan beliau.

“Manusia itu umpama lebah, carilah madu sebanyak-banyaknya di taman manapun, lalu bawalah pulang madu tersebut ke Indonesia,” demikian pesan penutup yang disampaikan Bapak Ibrahim, khususnya kepada anak bangsa yang memiliki kesempatan belajar dan bekerja di luar negeri.

Dari tutur kata beliau selama kurang lebih 60 menit wawancara, tercermin salah satu kutipan menarik beliau yaitu “experience is the mother of success”. Pengalaman hidup beliau, rasanya patut menjadi sumber inspirasi kita untuk belajar banyak hal, terutama bagaimana mengejawantahkan kecintaan kepada tanah air, dengan memaksimalkan segala potensi dan peran kita dimanapun berada.
 

*Oleh: Shinta Samudera & Titi Iman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s