Permata Hati

Dalam sebuah tabloid terbitan Jakarta yang saya pinjam dari seorang teman, ada artikel yang menceritakan tentang tewasnya seorang bocah berusia lima tahun karena dianiaya oleh ayah kandungnya. Kisah yang sangat menyayat hati ini menambah panjang deretan kasus kekerasan dan pembunuhan terhadap anak di Indonesia yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Tahun lalu, ada kasus serupa yang terjadi di Bandung di mana seorang ibu muda, berpendidikan tinggi, tega membunuh 3 orang anak balitanya dari hasil perkawinannya.

Malang benar nasib anak-anak yang tak berdosa itu! Di usia saat mereka sedang lucu-lucunya, sedang tumbuh dan berkembang, harus mengalami nasib yang tragis. Seharusnya anak-anak itu mendapatkan limpahan kasih sayang, belaian dan perlindungan dari orangtuanya.

Sungguh tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang ayah atau seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya sendiri. Apakah iman di hati sudah demikian tipis atau sudah begitu parahkah kehidupan di dunia ini? Apakah ini menunjukkan bahwa mereka belum siap menjadi orangtua yang bertanggung jawab? Sejumlah pertanyaan tentunya akan timbul dalam benak kita. Padahal tidak sedikit orang tua yang melakukan bermacam upaya agar bisa mendapatkan seorang anak dan banyak pula orangtua yang rela memeras keringat dan membanting tulang untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya; namun ternyata masih ada juga orang tua yang tega menyakiti, menyiksa bahkan membunuh darah dagingnya sendiri.

Jika kita renungi kasus di atas, rasanya patut kita pertanyakan kembali apa artinya kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga.

Anak adalah permata hati, pelipur lara dan harapan masa depan bagi kedua orangtuanya. Kehadiran mereka adalah sesuatu yang dinantikan di dalam keluarga. Canda, tawa, dan tangisan anak-anak merupakan hiburan dan kebahagiaan tersendiri yang tak tergantikan oleh apapun. Anak-anak merupakan karunia dan rahmat yang tiada ternilai dari Allah. Mereka adalah amanah Allah yang diberikan kepada orangtua yang wajib dididik, diasuh dan dibimbing agar menjadi individu yang berakhlak mulia dan berguna bagi keluarga, agama dan masyarakat. Anak diciptakan oleh Tuhan bukan untuk menjadi sasaran kekerasan, dan bukan pula untuk menjadi obyek pelampiasan kemarahan atau kekecewaan orangtua, yang seringkali bukan hanya disebabkan oleh anak itu sendiri tetapi juga hal lain yang dialami oleh orangtua seperti terhimpit kesulitan hidup sehari-hari.

Pada hakekatnya anak bukanlah milik kita. Anak adalah titipan yang harus kita pertanggungjawabkan kelak di hadapanNya. Karena itu tidak boleh disia-siakan dan diperlakukan sesuka hati.

Banyak orangtua yang menginginkan kehadiran anak namun tidak sedikit yang kurang memikirkan masa depan mereka kelak. Tanggung jawab dan beban orang tua dalam membesarkan anak tidaklah kecil. Anak tidak saja membutuhkan materi tapi juga membutuhkan kasih sayang, perhatian dan perlindungan. Anak memerlukan makanan sehat, pakaian, pendidikan, dsb yang semua itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebagian orang mungkin mampu mengatasi hal ini namun masih banyak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya, sehingga anak jadi menderita bahkan terlantar. Kesiapan dari segi moril terutama dan kemampuan finansial merupakan pertimbangan sangat penting dalam merealisasikan keinginan memiliki anak.

Dalam menghadapi anak-anak adakalanya sikap orangtua tidak tepat. Ada yang terlalu keras, ada yang terlau memanjakan. Padahal kita tahu, selain membutuhkan belaian, anak juga membutuhkan kedisiplinan. Kesabaran yang mendalam merupakan hal yang juga dibutuhkan dalam menghadapi mereka. Seringkali tercipta kekesalan pada orangtua dalam menghadapi kenakalan atau pembangkangan anak. Tak jarang kemarahan meluap saat mereka tak mendengar perintah atau melanggar peraturan orangtua. Sesungguhnya anak adalah tetap anak-anak yang sangat wajar dan bisa dimaafkan ketika berbuat kesalahan. Mereka mungkin tidak sadar kalau yang mereka lakukan adalah suatu kesalahan. Mungkin saja kesalahan justru terletak pada orangtua yang kurang berpikiran maju, atau terlalu kaku dalam membuat peraturan dan mengekang kebebasan mereka sebagai individu.

Sebagai individu anak berhak memilih untuk melakukan yang terbaik untuk mereka dan mengatur masa depan mereka karena nantinya merekalah yang akan menjalaninya. Tugas orangtua adalah mengarahkan agar mereka tetap berada pada jalur yang benar, bukan melarang atau memerintah. Kita, para orangtua, pun pernah mengalami fase menjadi anak, karena itu sebaiknya kita pahami apa yang dipikirkan atau dilakukan seorang anak; mungkin itulah gambaran diri kita ketika masih kanak-kanak.

*Oleh: Vidya MS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s