Kartini dan Kita

Hampir setiap kita mengenal Kartini, perempuan Indonesia yang menoreh sejarah penting dalam perjuangan emansipasi kaumnya. Perempuan Jawa yang dibesarkan di balik kokohnya tembok tradisi, namun semangat pemikirannya mampu menembus dan melesak jauh sampai ke batas negeri. Walau hanya tamat setingkat sekolah dasar namun sepak terjangnya mampu mengundang kekaguman banyak orang. Sampai sekarangpun tidak hanya di dalam negeri, namun sampai ke luar negeri orang masih tergugah dengan untaian mutiara yang dapat dibaca dari kumpulan surat-suratnya.  

Mengapa seorang Kartini tidak puas dengan segala kecukupan yang dimilikinya? Mengapa ia tidak hanya menikmati kebangsawanannya dan menjalani peran yang tersedia tanpa perlu bersusah payah berjuang demi perempuan bangsanya?

Apa bedanya Kartini dengan kita? Yang jelas, zaman yang telah berganti menyuguhkan peluang dan kondisi yang sangat berbeda. Mengapa dengan Kartini? Ada apa dengan kita? Sering terselip rasa bersalah dan penyesalan dalam hati kecil atas segala kesempatan yang terlewatkan begitu saja. Sebagai perempuan, apa yang telah saya lakukan untuk bangsa, untuk keluarga dan bahkan untuk diri sendiri. Apakah saya telah mencoba berbuat sesuatu yang memberikan manfaat bagi banyak orang? Apakah saya telah memanfaatkan segala keunggulan yang ada untuk meningkatkan kemampuan pribadi? Apakah saya telah menjalani peran sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai anggota masyarakat atau sebagai mahluk Allah SWT dengan penuh usaha, bukan hanya sekedar menjalaninya sesuai tradisi yang selama ini berlaku?

Mengapa kita begitu mudah puas akan kondisi yang ada? Mungkin  dengan hanya sedikit berupaya lebih, hasil yang diperoleh akan jauh lebih besar. Bahkan akan sangat mungkin jika mau berupaya maksimal, maka insya Allah kita akan memperoleh hasil yang incredible? Kisah seorang perempuan bernama Tri Mumpuni yang dipilih majalah Tempo dalam edisi khusus Desember 2006 sebagai tokoh pilihannya yang tidak pernah lelah mengajari warga di pelosok-pelosok tanah air berswadaya mengembangkan listrik murah yang akhirnya berhasil membantu memberdayakan desa-desa, apakah sekedar menimbulkan decak kagum kita atau malah memunculkan rasa iri atau rasa malu dengan apa yang telah kita capai?

Di depan mata kita sebagai perempuan, saat ini pilihan tersedia begitu banyaknya. Tentu sebagaimana halnya partner kita, kaum lelaki, tidak ada yang dapat kita peroleh tanpa adanya usaha dan perjuangan. Perjuangan untuk memperoleh keberhasilan adalah sesuatu yang universal. Peluang yang ada tidak hanya sekedar diraih, tapi juga dikejar bahkan juga bisa diciptakan. Yang perlu adalah semangat, itikad dan keberanian! Mungkin sangat klise kalau dikatakan: tidak pernah ada kata terlambat. Pangeran Diponegoro misalnya mulai memimpin perang yang ternyata sangat menyulitkan Belanda pada saat beliau berusia 40 tahun.

Memang perjuangan perempuan Indonesia menentang penindasan dan perbedaan perlakuan belum berakhir. Namun, mari kita tetap mensyukuri perjuangan Kartini dengan hal-hal yang hakiki. Mari kita jalankan peran semaksimal mungkin, apakah sebagai anak, sebagai ibu, sebagai siswa, sebagai karyawan, sebagai pemimpin, sebagai anggota masyarakat dan sekaligus sebagai hamba Tuhan. Bukan hanya Kartini yang akan tersenyum bangga melihat keberhasilan perjuangan kita, namun juga orang lain di dalam lingkungan pengaruh kita, dan tentu saja diri kita sendiri!

*Oleh : Dara Arief  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s