Bincang-bincang dengan Ibu Herawatie Hassan Wirajuda mengenai “Mutu Manikam Nusantara”

Di sela-sela kesibukan  mendampingi Menteri Luar Negeri melakukan kunjungan kerja di London, Ibu Herawatie Hassan Wirajuda berkenan meluangkan waktunya untuk berbagi informasi dengan pembaca Buletin DWP KBRI London perihal organisasi Mutu Manikam Nusantara. Dalam wawancara yang dilakukan di atas bis saat perjalanan menuju Stratford-upon-Avon bersama-sama pengurus DWP KBRI London, beliau menjelaskan mengenai visi, misi dan kegiatan yang telah dilakukan oleh MMN. Seperti yang diketahui, Ibu Herawatie merupakan koordinator organisasi Mutu Manikam Nusantara (MMN) yang diprakarsai oleh Ibu Ani Bambang Yudhoyono. Organisasi nirlaba ini didirikan untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya alam di tanah air berupa aneka ragam batu-batuan serta SDM yang terampil dan memiliki jiwa seni yang tinggi. Keunggulan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja melalui industri sehingga pada akhirnya akan mendukung kesejahteraan rakyat. Disamping membantu memperluas pemasarannya agar dapat mempekerjakan lebih banyak pengrajin, MMN berupaya keras meningkatkan kualitas perhiasan yang ada sekarang melalui  pelatihan yang berkelanjutan.

Berikut ini adalah hasil bincang-bincang antara Buletin DWP KBRI London (selanjutnya disebut Buletin) dengan Ibu Herawatie Hassan Wirajuda (selanjutnya disebut Ibu Herawatie)

Buletin :
Apa yang merupakan latar belakang berdirinya organisasi ini?

Ibu Herawatie :
Pada bulan Mei tahun lalu, ibu negara mengajukan gagasan untuk mendirikan yayasan perhiasan karena selama ini belum ada yang membinanya sebagai produk kerajinan. Selanjutnya Ibu Ani mengusulkan saya untuk menjadi ketuanya. Setelah cukup lama memikirkan formatnya, pada akhir Juli saya mulai membentuk himpunan. serta menyusun kepengurusan dan penasehatnya. Bulan Oktober, organisasi ini launching dan sekaligus menyelenggarakan pameran, yang selain bertujuan mengumpulkan anggota, juga bertujuan  memperkenalkan organisasi.

Ide dasar organisasi ini adalah untuk menciptakan lapangan kerja dan menambah pemasukan devisa. Pemikirannya sederhana, jika kita bisa menghasilkan barang yang bermutu, maka perluasan pasarnya tidak hanya di Indonesia tapi juga sampai ke manca negara. Jika barang itu cukup kompetitif, maka akan lebih banyak mendapat pesanan sehingga akan dibutuhkan lebih banyak lagi pekerja dan pada akhirnya akan meningkatkan lapangan kerja.

Buletin :
Apa saja yang merupakan aktivitas MMN?

Ibu Herawatie :
Aktivitas MMN meliputi training, baik pengusaha maupun perajinnya, di bidang manajemen, market strategy, pricing dan tak kalah penting adalah teknik produksi. Mereka harus diberi bekal cukup mengenai inovasi di bidang teknis produksi perhiasan, membuat desain yang sesuai dengan segmen pasar lokal maupun internasional. Hal ini dapat dilakukan melalui riset dan training of trainers (TOT). Pada saat ini masih merupakan tahap mencari domestic trainers untuk dilatih, yang pada gilirannya mereka akan melatih para Usaha Kecil Menengah (UKM). Kami juga meminta bantuan negara sahabat agar mengirimkan desainernya untuk  memberikan training di Indonesia. Untuk desainer lokal yang berbakat diupayakan agar memperoleh beasiswa untuk  training di luar negeri.

MMN terbagi dalam beberapa unit di antaranya pengembangan produk, quality control, pendanaan industri, management support, kelembagaan, keanggotaan, dan lain sebagainya.

Selain kegiatan  training, ada pula kegiatan riset yang salah satunya adalah berupa pemetaan keunggulan wilayah Indonesia yang terkait perhiasan, sehingga dapat diketahui wilayah mana yang menghasilkan emas, perak atau berlian, misalnya. Pemetaan ini sangat penting karena jika suatu daerah kuat di per-batu-an, maka yang perlu dikonsentrasikan adalah industri pengasahan/penggosokan. Riset selera pasar akan memberikan informasi mengenai kesukaan setiap wilayah. Disamping pelatihan dan riset, pemasaran juga sangat penting sehingga secara proaktif kami menghubungi semua perwakilan dan komponennya agar memperoleh akses untuk eksibisi, misalnya dengan acara coffee morning, high tea dan sebagainya untuk mempromosikan perhiasan kita. 

Buletin :
Apa yang merupakan kegiatan lainnya?

Ibu Herawatie :
MMN membantu program pemerintah dalam menggerakkan sektor riil, karena produk perhiasan ini langsung memasar dengan hanya sedikit perbaikan saja. Ini bukan sekedar jual-beli perhiasan, tapi memiliki tujuan yang lebih besar yaitu job creation dan mendorong pergerakan sektor riil. UKM yang bergerak di sektor informal sangat besar, sehingga mereka inilah yang perlu dibantu. Saya mengharapkan DWP dan KBRI dapat menjadi sales person yg baik untuk program pemerintah dan produk kita. Tidak ada pekerjaan yang hina untuk membantu rakyat dan negara, hanya caranya yang harus dibuat elegan.

Saya juga tak habis-habisnya mengatakan bahwa kita harus berani tampil dengan   branding kita sendiri. Ini juga terkait dengan perlindungan intellectual property right kita sendiri. Salah satu unit dalam MMN disebut legal and intellectual property unit bertujuan melindungi desain kita dari aspek hukum. Perlu mencantumkan nama Indonesia agar orang mengetahui dari mana negara asalnya. Di Jepang, banyak orang surprise menemukan bahwa ternyata produk kita sudah sangat baik. Hal ini sesuai dengan pesan Ibu Ani agar mencantumkan nama Indonesia di setiap produknya.  

Secara domestik kita sudah mencanangkan agar pameran dapat diselenggarakan setiap tahun. Pada launching  yang lalu walau persiapannya sangat singkat sekitar dua bulan, tapi alhamdulilah penyelenggaraannya cukup sukses. Ini adalah pertama kali setelah krisis ekonomi. Yang terakhir diselenggarakan tahun 1995. Dalam kesempatan itu kita memperoleh 130 pengusaha sebagai anggota dengan 2200 karyawan perajin dan 1000 karyawan administrasi yang merupakan target pelatihan kita selanjutnya dan juga kegiatan promosi kita di luar negeri agar produk mereka lebih dikenal. Tahun ini kita berharap agar penyelengaraan pameran yang rencananya diselenggarakan pada akhir tahun berlangsung cukup besar karena masa persiapannya sudah lebih matang. Sepulang berpameran di Basel, kita berencana akan menyelenggarakannya di London. Bulan September kami mendapat konfirmasi bahwa KBRI akan mensponsori jewellery festival di London. Ini merupakan salah satu kiprah KBRI dalam memasarkan produk kita di luar negeri.

Buletin :
Apa yang menjadi tantangan MMN?

Ibu Herawatie :
Awal-awal ini merupakan masa yang berat, karena kami harus memperkenalkannya kepada masyarakat. Untuk menggandeng agar pihak lain bersedia menjadi mitra bukan hal yang mudah. Saya percaya format bapak angkat adalah yang paling sesuai untuk saat ini dalam membina UKM. Yang saya maksud bapak angkat adalah pola kemitraaan antara perusahaaan besar dengan UKM. UKM harus belajar menjadi entrepreneur yang capable, yaitu yang memiliki pola sikap, pola tindak dan disiplin. Jadi mereka belajar kiat-kiat bisnis dari sesamanya, karena akan lebih baik bila hal ini ditularkan oleh big brothernya dari pada oleh pemerintah. Pemerintah hanya perlu mendorong, membantu dan memfasilitasi. Saya tidak pernah merasa lelah menghimbau perusahaan besar untuk menjadi bapak angkat yang baik, yaitu dengan menjadikan UKM sebagai anak angkatnya dengan membiayai pelatihan, melakukan pendampingan, membantu pemasaran produk. Ini harus merupakan satu paket. Untuk pelatihan sendiri saya telah melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan Departemen Perindustrian termasuk memproduksi peralatan. Jadi kita tidak hanya bicara mengenai perhiasan tetapi juga mesin pembuatannya, sehingga dengan demikian pendekatannya bersifat komprehensif dan holistik. Kita juga bekerja sama dengan Irjen UKM, Departemen Perindustrian, BPEN, PT Permodalan Nasional Madani, P3G (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Guru Kesenian seluruh Indonesia).

Buletin :
Bagaimana mengelola  pengusaha kecil di seluruh Indonesia yang wilayahnya luas sekali?

Ibu Herawatie :
Wilayah Indonesia yang luas mempunyai tantangan tersendiri. Namun selama ini ada Dekranasda dan PKK yang telah memiliki mekanisme tertentu. Kami juga jalan sendiri ke daerah-daerah. Pernah ditemukan suatu daerah yang industri perhiasan dan bahkan budaya perhiasannya mulai punah, sehingga harus digali dan dibangkitkan kembali. Jadi pembinaan setiap daerah disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.  

Demikian bincang-bincang singkat kami dengan Ibu Herawatie Hassan Wirajuda. Singkat, tetapi sangat padat. Ternyata MMN merupakan proyek yang sangat besar dan mempunyai tujuan mulia. Semoga apa yang menjadi visi Ibu Herawati sebagai koordinator MMN ini dapat dicapai segera dan pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

*Penulis : Dara Arief (Wawancara oleh Fenty Sutiono dan Dara Arief)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s