Ratna Crabtree

Ibu Ratna Crabtree, yang bernama lengkap Hj. Ratna Suryani Crabtree, adalah cerminan wanita Indonesia yang energik. Dalam kesehariannya ia senang beraktivitas, pergi ke pusat kebugaran hampir dilakoni setiap hari. Wanita yang sudah 30 tahun berdiam di Inggris ini adalah Chairlady dari The Kartini Association sejak tahun 1990, yaitu suatu organisasi yang bertujuan membantu dan menjalin hubungan antar wanita Indonesia yang bersuamikan pria berkebangsaan Inggris. Organisasi ini berdiri pada tahun 1988, sampai saat ini telah beranggotakan lebih dari 100 orang dan telah banyak membantu mempromosikan budaya dan menyumbang untuk Indonesia.   

Lahir di Jakarta tanggal 13 September 1951, puteri betawi dari pasangan Ibu Rogayah dan Bapak Gozali ini pada masa kecilnya senang sekali bermain sandiwara. Wanita dengan panggilan kesayangan “Nunung” ini rajin berlatih dan mengikut pementasan kesenian sandiwara betawi “tablo” di lingkungan tempat tinggalnya di daerah Tebet. Karena kurang mendapat dukungan keluarga, kegemarannya dialihkan untuk belajar memasak dan menjahit. Pada usia 12 tahun, ia sudah pandai memasak dan saat menginjak usia remaja ia telah menerima jasa menjahit busana bagi orang dewasa dan anak-anak, yang ternyata mendatangkan banyak pelanggan.

Sekitar tahun 1970-an Ibu Ratna sempat berkecimpung di dunia anak-anak, bekerja sebagai tenaga administrasi dan menjadi guru pengganti di taman kanak-kanak di bilangan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Selain itu karena luasnya jalinan pertemanan yang dibina dan keinginan untuk memperoleh tambahan penghasilan, ia mencoba memulai berbagai usaha, dari usaha jual beli dan sewa rumah sampai membantu merekrut pegawai untuk rumah makan milik kenalan pun pernah dikerjakan.

Wanita yang mengoleksi aneka hiasan berbentuk katak ini dipersunting oleh Terry Crabtree, pria berkebangsaan Inggris, pada tahun 1975 di Jakarta. Perkawinan beda budaya ini dijalani Ibu Ratna dengan santai walaupun tetap berusaha saling belajar untuk mengerti dan memahami karakter masing-masing.

Ibu dari dua puteri, Cynthia Dewi (30 tahun) dan Fiona Elizabeth (28 tahun) mendidik kedua putrinya untuk mengenal dan mencintai budaya Indonesia. Makanan Indonesia hampir setiap hari disuguhkan, pemakaian bahasa Indonesia pun sudah diperkenalkan kepada anak-anak semenjak mereka kecil. Buku-buku mengenai khasanah Indonesia dan budaya ketimuran disediakan untuk dipelajari oleh kedua puterinya. Tak hanya itu, Ibu Ratna mendorong anak-anaknya agar lebih mengenal akar keluarga dengan membawa mereka pulang ke Indonesia secara teratur. Ibu Ratna berharap kepada ibu-ibu yang menetap di luar negeri untuk selalu menanamkan kepada anak-anaknya rasa bangga akan budaya Indonesia

Karena memiliki rasa sosial dan empati yang kuat terhadap orang lain, Ibu Ratna Crabtree juga dikenal sebagai “ibu angkat” bagi pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Inggris. Walaupun tidak secara langsung menyediakan tempat tinggal bagi para pelajar, namun dengan bimbingan dan arahannya serta selalu membuka rumahnya bagi siapa saja, bagaikan obat pengurang rasa rindu akan orangtua di tanah air.

Selalu bersyukur dan tidak hidup berlebihan di luar kemampuan, demikianlah pegangan hidup Ibu Ratna. Semangat hidupnya yang tinggi dan tidak pernah bosan belajar adalah hal positif lain yang patut kita contoh. Ibu Ratna juga berpesan akan pentingnya memiliki sikap mandiri, karena merupakan bekal penting dalam menjalani kehidupan di era modern sekarang ini.

*Oleh: Titi Iman (Pewawancara: Titi Iman & Shinta Samudera) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s