Nini James

Walau telah menginjak usia 90 tahun, gurat cantik Nini masih tampak jelas.  

Ingatan  yang sangat kuat mengundang decak kagum lawan bicaranya. Sambil membuka koleksi foto-foto yang dimiliki, Nini dengan lancar dan terperinci menuturkan  masa remajanya di Yogyakarta dan Solo.

Lahir di Kuningan Jawa Barat pada tanggal 4 Desember 1916,  Ernestine Willhelmina Sarah van Gesseler Verschuir yang lebih dikenal dengan Nini James adalah seorang saksi sejarah yang mengagumkan..

Mengikuti ayah yang bertugas di  berbagai tempat seperti  Batavia (Jakarta), Bandung dan Yogyakarta, dimana di kota gudeg inilah yang paling banyak menyimpan kenangan bagi Nini. Ayah Nini menjabat sebagai Governor Yogyakarta pada tahun 1929-1931. Nini yang sedang beranjak remaja sangat mencintai budaya Indonesia. Belajar tari Serimpi dari keluarga Keraton Solo  merupakan salah satu bukti kecintaannya pada budaya kita.  Pada masa liburan akhir pekan, Nini biasanya diajak ke Kaliurang atau mengunjungi candi-candi di sekitar Yogyakarta. Nini sangat terkesan akan kerukunan bangsa Indonesia. Walaupun ada berbagai agama, tapi satu sama lain dapat saling memahami.

Ibunda Nini memiliki perhatian yang besar terhadap pengrajin perak di Kota Gede. Beliau sangat  mengagumi kemampuan pengrajin perak di sana. Setahun setelah kembali ke Belanda, yaitu tahun 1932,  ibunda Nini berkunjung ke Yogyakarta dan berkeliling ke Candi Mendut, Prambanan dan Borobudur dengan tujuan mengambil foto ornamen candi untuk dipakai sebagai disain ukiran perak.  Sejak saat itulah  kerajinan perak Kota Gede mulai berkembang. Tahun lalu koleksi yang dimiliki keluarga ini dipamerkan di Amsterdam.

Tahun 1940 Nini menikah dengan seorang tentara Inggris. Nini dengan setia menemani dimana pun sang suami bertugas. “ Saya harus berpindah tempat sampai 27 kali selama 20 tahun. Saya akhirnya memutuskan punya satu anak saja. Saya tidak memiliki barang, hanya pakaian yang saya bawa pindah. Sekali waktu saat kami berangkat dengan  kapal induk, kabin para suami terpisah dengan kabin  istri dan anak-anaknya. Dalam satu kabin ada 3 ibu dan 4 anak yang masih kecil! Dapat dibayangkan bagaimana ramainya!”  tutur Nini saat ditanya kehidupannya setelah menikah. Sejak tahun 1960 Nini menetap di London karena suami ditugaskan  di ‘Ministry of Defence’.

Keingintahuannya akan sejarah suatu tempat mendorong Nini untuk mengambil kursus  sejarah kota London. Tidak pernah diduga, Nini akhirnya bekerja sebagai tour guide. “Saya tidak pernah membayangkan  bekerja sebagai tour guide. Guru saya menganjurkan untuk ikut ujian dan ternyata lulus. Sampai sekarang saya masih tetap menjalin hubungan baik dengan turis-turis yang pernah saya antar” tutur Nini mengenai pengalamannya di London. Profesi ini diakhiri ketika Nini berusia 82 tahun.

Untuk mengobati kerinduan Nini akan Indonesia, Nini beberapa kali berkunjung ke Jawa, Bali dan Sumatera. Di London, Nini yang menjadi anggota  Anglo Indonesian Society, yaitu perkumpulan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Inggris,  selalu menyempatkan diri menghadiri acara-acara yang berkaitan dengan budaya Indonesia. “Masa remaja saya di Yogyakarta dan Solo merupakan kenangan manis yang tidak akan pernah terlupakan” demikian Nini menutup bincang-bincang siang itu. ”Happy Belated Birthday, Nini!”

Nini selalu mensyukuri perjalanan hidupnya dan sangat berterima kasih kepada orang tua yang mendidik dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang serta memberi kesempatan seluas-luasnya kepada Nini untuk mengenal dunia.

*Oleh: Hanna Sastrawan (pewawancara: Hanna dan Shinta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s