Renungan Penghujung Tahun

Musim berganti.  Musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin bergantian sepanjang tahun.  Masing-masing dengan karakternya. Musim semi dengan nuansa segar membawa kehidupan. Pucuk dedaunan menyembul dari ujung-ujung ranting yang gundul. Bunga-bunga musim semi berlomba memamerkan kecantikannya. Kehidupan mulai bergeliat dari istirahat panjang di musim dingin.  Rintik hujan masih rajin mengunjungi bumi, tetapi siang hari mulai memanjangkan diri.

Berikutnya musim panas.  Matahari semakin tinggi, mendorong alam semesta mengeluarkan semua potensinya.  Tanaman rimbun menghijau, berbunga, dan mengeluarkan buah.  Udara cerah dan kehidupan berjalan aktif di luar.  Semua serba ringan, semarak, dan cerah. Semua mahluk beraktivitas sepenuhnya.  Walau di sela-sela itu serbuk bunga yang berterbanganan menimbulkan alergi bagi sebagian orang.

Saat musim gugur, waktunya memanen hasil bumi.  Panen melimpah. Orang-orang berpesta dan mengucap syukur. Kemudian suhu menurun.  Dedaunan menguning.  Langit memudar menjadi kelabu.  Hujan mulai turun, ditemani angin kencang yang menerbangkan dedaunan.  Pepohonan meranggas. Hari terang semakin pendek. Waktu berubah.

Akhirnya musim dingin tiba.  Udara dingin, malam semakin panjang,  langit kelabu.  Pepohonan gundul.  Suasana lengang. Seolah alam beristirahat pada musim ini.  Semua mahluk menarik diri dari luar, menghangatkan badan di sarangnya masing-masing. Satu dua terkena flu.

Mengamati musim berganti dengan segala karakternya, membawa kesadaran akan Kuasa yang mencipta dan mengatur semuanya.  Waktu berlalu, musim berganti, mahluk hidup datang dan pergi.  Kehidupan dan kematian menjadi bagian dari keberadaan alam. Gejala alam dengan segala berkah dan bencana yang dibawanya bermuara pada satu keseimbangan. Dan menegaskan satu hal yang mutlak bahwa hanya satu yang punya kuasa : Sang Pencipta.

Hari dan bulan berganti, tak terasa waktu bergulir menuju penghujung tahun.  Melewati berbagai musim dengan segala suka cita dan tantangannya, tibalah waktunya merenungkan kembali hidup yang telah dilewati.  Musim bukan hanya milik alam semesta, tetapi juga semesta kecil dalam setiap diri manusia.  Hari cerah dan hujan badai, juga terjadi dalam semesta kecil sang manusia.  Di penghujung tahun, marilah membentang kembali langkah kaki di tahun ini.  Apa yang telah dilewati, apa yang telah terjadi.  Susah, senang, sakit, dan pedih.  Salah, maaf, lahir, dan mati.  Membentang kembali, untuk melihat kembali. Lebih mudah melihat sesuatu yang sudah dilewati.  Membentang kembali, dan dan mencocokkan dengan peta Sang Pencipta, ke mana sebenarnya hidup harus pergi.

Semoga tahun esok lebih baik dari tahun ini.

*Oleh: Pratiwi Herman

             

             

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s