Ibu Sranya Natalegawa

Pengalaman sebagai putri dari seorang diplomat Thailand yang pernah merasakan hidup di berbagai negara menjadikan Ibu Sranya Bamrungphong Natalegawa sebagai sosok yang sabar, matang, dan bijaksana.

Cerita mengalir dari sebuah kesan mendalam pada saat ibu Sranya mengikuti ayahanda dari London ke Addis Ababa, Ethiopia pada tahun 70-an. Meskipun terdapat perbedaan yang tajam antara kehidupan di London dengan di Addis Ababa yang saat itu sedang mengalami revolusi, ibu Sranya tetap dapat melakukan kegiatan berarti di dalam rumah. Beliau mengisi waktu di rumah dengan banyak membaca, belajar Knitting dan Krosse, juga belajar menunggang kuda. Televisi hitam putih yang ditayangkan hanya 1 jam sehari, tidak menjadi sebuah kendala. Segala keterbatasan yang ada di negara itu mendatangkan hikmah yaitu semakin eratnya hubungan dalam keluarga karena lebih banyak waktu untuk bersama.

Ketika orang tua beliau memberikan pilihan untuk kuliah di Inggris atau Perancis, ibu Sranya memilih untuk pulang ke Thailand dan kuliah di Thammasat University Bangkok jurusan Hubungan Internasional. Salah satu pertimbangan memilih pulang adalah keinginan untuk mengenal Thailand dengan lebih baik dan memperdalam bahasa Thailand yang sejak kecil ditinggalkan. Meskipun sebelumnya selalu bersekolah di British School, ibu Sranya sangat antusias belajar di negara sendiri. Salah satunya adalah saat mengikuti program seperti KKN (Kuliah Kerja Nyata), yaitu tinggal selama sebulan bersama keluarga petani di pedesaan. Sejak bangun pagi hingga matahari tenggelam diisi dengan kegiatan di antaranya memetik buah dan membantu berjualan di pasar. Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam yaitu dapat lebih menghargai apa yang telah dimiliki.

Pada saat mengambil Program Master jurusan Hubungan International di London School of Economic (LSE), Ibu Sranya bertemu dengan Bapak Marty M. Natalegawa pada saat menghadap supervisor yang sama, DR Michael L untuk pembuatan essay dan disertasi. Kedekatan yang selanjutnya terjadi di antara mereka kemudian dilanjutkan dengan kesepakatan untuk membina rumah tangga. 

Setelah menyelesaikan Program Master, Ibu Sranya kembali ke Thailand dan bekerja sebagai wartawati di Bangkok Post. Seringnya meliput program International News, memberi peluang untuk bertemu orang-orang penting diantaranya Bapak Mochtar Kusumaatmadja yang pada waktu itu menjabat Menlu RI. Ibu Sranya bahkan pernah mewawancarai dua orang penting dalam satu hari, yaitu  Casper Weinbeger, Menlu USA  dan Nancy Reagan, First Lady USA

Ibu dari 3 orang remaja Annisa, Ananta dan Andreyka, punya kiat tersendiri dalam hal mendidik anak. Beliau berpendapat kebanyakan anak diplomat yang sebagian besar hidup di luar negeri, berada di dua kultur yang berbeda. Sebagai orang tua, harus mengerti pola pikir anak namun tetap tidak meninggalkan adat ketimuran. Di samping itu Ibu Sranya berupaya agar selain bersikap sebagai orang tua, beliau juga dapat bersikap sebagai sebagai teman bagi anak-anaknya, sehingga mereka dapat terbuka dan mau menceritakan apa yang dirasakan.

Pengalaman sebagai seorang pendidik, membuat beliau berkesimpulan bahwa di negara manapun Human Resource adalah yang paling penting. Untuk mendapatkan human resource yang baik harus melalui pendidikan, bukan hanya secara akademis tetapi juga secara moral dan mental intelligent. Pengukuran keberhasilan seseorang yang paling essential adalah dengan melihat proses kematangannya untuk mencapai semua itu, bukan dengan  score atau angka sebagaimana yang diterapkan di banyak Negara Asia.

Selain pendidikan, perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi perhatian beliau. Hal ini mendorong beliau menjadi sukarelawan di berbagai LSM pada saat di Thailand, diantaranya Shelter for Abuse Women yang membuat beliau semakin mengerti banyaknya hak-hak wanita yang terabaikan.

Sebuah nasehat dari ayahanda ibu Sranya agar hidup seperti padi, semakin berisi justru semakin merunduk, nampaknya dapat menjadi sebuah pesan moral yang bisa kita contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir wawancara beliau berpesan bahwa melalui kerjasama dan persahabatan yang dilandasi kekompakan semua masalah akan terselesaikan dengan baik. Semoga  pesan beliau ini menjadi pegangan bagi kita dimana pun berada sehingga  dapat menjalin persahabatan dengan siapa pun.  

*Oleh Henny Iroth (Wawancara Ida Pradopo dan Henny Iroth)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s