Dari Ampun dan Maaf ke Mohon Maaf Lahir dan Batin

Entah siapa yang memulai dan kapan itu dimulai, lebaran di Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu saling maaf memaafkan. Berbeda dengan kebiasaan di Timur-Tengah, ketika hari raya Ied al-Fitr, mereka saling mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkun, kullu amin wa antum bi khair” yang artinya  : Semoga Allah menerima (ketaatan) kami dan kalian. Semoga setiap tahunnya keadaan kalian baik. Beda dengan ucapan di kita “Selamat Hari Raya Ied al-Fitr, Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Dua ucapan tadi berbeda sekali makna dan kandungannya.

Maaf adalah kata sambung dari sebuang jalinan yang terputus. Maaf juga merupakan kata dasar untuk sebuah perbaikan kesalahan. Maaf merupakan kata ahir yang seharusnya diucapkan seorang hamba ketika akan meninggalkan alam ini untuk pindah ke alam lain, dimana di sana kata maaf tidak akan berlaku lagi.

Kata maaf itulah yang banyak terucap pada bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal. Kata maaf itulah yang menurut Rasulullah saw, paling pantas diucapkan seorang hamba ketika bersujud mendapatkan malam Lailatul Qadar. Kata-kata maaf itulah inti dari yang diajarkan nabi Muhammad saw kepada istrinya A’isyah yang bertanya tentang doa terbaik yang diucapkan malam itu : Allahumm innaka ‘afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fu ‘anna. Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha Pengampun dan maha pemurah, mencintai pengampunan. Maka ampunilah kami (baca: maafkanlah kami). (HR. Al-Bukhari)

Ketika Allah berjanji akan mengampuni (memaafkan) dosa-dosa hambanya yang meminta maaf dan ampun di sepanjang bulan Ramadhan, dan hamba-hambaNyapun duduk bersujud menyembahNya dan mohon ampunanNya, maka di penghujung  Ramadhan, Allah pun memenuhi janjiNya dengan telah mengampuni ribuan, bahkan mungkin jutaan orang-orang. Berita baik itulah yang diceritakan Rasulullah saw dalam banyak riwayat yang sahih. Tambah baginda, Yang merugi adalah mereka yang dosa-dosanya tidak terampuni, padahal Ramadhan sudah berlalu. Buat kita, semoga kita termasuk orang yang diampuni dosa dan kesalahannya.

Dalam konsep Islam dikenal dua alur hubungan, hubungan dengan Allah atau yang dikenal dengan hablum minallah dan hubungan dengan manusia yang dikenal dengan istilah hablum minannas. Kesalahan yang terjadi dalam hablum minallah dikenal sebagai dosa. Sedangkan kesalahan yang terjadi dalam hablum minannas cukup dikatakan sebagai salah. Dosa dapat dihapus dengan istighfar dan taubat, sedangkan salah dapat dihapus dan diluruskan dengan maaf.

Lalu, ketika dosa-dosa mulai berguguran dengan puasa dan tarawih, lalu terhapus dengan takbir yang dialunkan pada hari raya Iedul Fitri, maka kesalahan antar manusia pun dapat terlupakan dan terhapus dengan kata maaf dan jabat tangan di hari lebaran.

Namun, ketika jarak langkah semakin memisahkan sahabat dan karabat, dan ketika tangan-tangan itu tidak lagi sampai untuk saling berjabat, ucapan mohon maaf lahir dan batin pun dikirim lewat email, sms / text message dan dering telpon.

Banyak orang yang menganggap email, sms dan kartu ucapan lain sebagai basa-basi pergaulan, bukan lagi sebuah ketulusan. Ketika orang mengirimkan semua itu sekedar trend dan gaya, akan terhapuskan kesalahan dan kekhilafan itu?

Semoga huruf-huruf dalam layar-layar digital itu dapat mewakili ucapan maaf yang seharusnya diucapkan sepasang bibir ketulusan.

*Oleh: Ahmad Lutfi Fathullah
Penulis adalah ustadz yang diundang KBRI London selama bulan Ramadhan yang juga merupakan pengajar Pascasarja pada beberapa universitas di Indonesia dan penulis beberapa buku serta artikel di majalah dan surat kabar.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s