Marhabban Yaa Ramadhan

 
Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini " (HR. Ath-Thabrani).

Ramadhan sebagai tamu yang datangnya ditunggu-tunggu umat Islam sedunia selalu disambut kedatangannya, dengan segala upaya memaksimalkan ibadah. Layaknya tamu kehormatan, kedatangan Ramadhan menciptakan irama pengabdian insan kepada Rabb-nya dalam semaksimal upaya. Shaum (menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu), shalat tarawih, shalat malam/tahajjud, membaca Al-Quran, itikaf (bermalam di masjid), dan berbagai ibadah lainnya mengalami peningkatan intensitas pada bulan Ramadhan.

Keberhasilan seseorang dalam bulan Ramadhan akan terasa ketika Ramadhan telah berlalu, yaitu dengan adanya peningkatan kualitas keimanan. Semestinya hubungan kita dengan Allah mengalami peningkatan, dan hubungan kita dengan sesama juga mengalami perbaikan. Sayang sekali rasanya jika bulan penuh rahmat dan ampunan ini berlalu tanpa peningkatan kualitas ibadah.

Saat Ramadhan adalah saat kita belajar lebih keras lagi dalam menjaga diri dari hal-hal yang mesti dihindari, misalnya berbicara tanpa manfaat dan ghibah/menggunjingkan keburukan orang lain. Mungkin dalam keseharian, kita sering melakukannya. Maka saat Ramadhan inilah kita bisa menjadikannya sebagai moment pembelajaran diri, termasuk pembelajaran mengendalikan lisan. Melatih lisan yang bermanfaat ketika bertutur, lisan yang lebih baik diam daripada mengucapkan keburukan. Ramadhan tak hanya puasa perut, tetapi juga puasa lidah.

Di antara begitu banyak hikmah Ramadhan yang mesti kita cari, salah satu yang bisa kita rasakan langsung adalah saat sedang menahan lapar dan dahaga di siang hari. Kepekaan dan empati kepada fakir miskin akan terlatih saat kita berpuasa, yang merupakan salah satu dari sekian banyak pesan moral dari berpuasa. Betapa selama ini banyak orang tak beruntung yang hari-harinya selalu berada dalam keadaan lapar. Inilah saat terbaik bagi kita untuk melatih diri merasakan penderitaan sesama, melatih agar tak lupa diri kala dalam keadaan lapang, dan melatih agar tak putus asa kala dalam ujian.

Karena sesungguhnya esensi dari shaum (puasa) di bulan Ramadhan bukan semata menahan lapar dan dahaga sejak Shubuh menjelang hingga senja tenggelam, tetapi juga menahan diri dari godaan dan bisikan hati yang cenderung menjauh dari kebenaran. Inilah bulan mulia untuk berlatih kesabaran, berlatih menguatkan sifat amanah (terpercaya), serta berlatih menjernihkan hati dan pikiran.

Marhabban Yaa Ramadhan.

*Oleh: Shinta Samudera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s