Closure

Ada awal pasti ada akhir. Kalimat ini sudah sering kita dengar, bahkan ketika kita menonton film di bioskop, lagu pembuka merupakan pertanda film akan dimulai, sementara kata ‘the end’ adalah tanda film telah berakhir. Dalam cerita dongeng anak-anak juga kalimat ‘once upon a time…’ merupakan kalimat yang pasti diingat anak-anak sementara tulisan ‘the end’ juga pasti sangat familiar bagi mereka untuk mengakhiri cerita.

Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti selalu menghadapi awal dan akhir, pertemuan dan perpisahan, bahkan bumi tempat kita berpijak ini juga diatur oleh pagi dan siang, yang menandakan sebuah awal dan akhir.

Lebih dari tiga tahun yang lalu kami sekeluarga menginjakkan kaki di kota London, sebuah awal dari kehidupan kami di negara asing yang dingin udaranya tetapi ternyata hangat suasananya. Kekhawatiran dan kebingungan yang kami rasakan ketika pertama kali memulai hari-hari di London ternyata dapat kami lewati tanpa terasa, walaupun melalui berbagai cobaan hidup sekaligus kebahagiaan. Sebentar lagi waktu akan membawa kita pada akhir dari lembar kehidupan kami di London, yang sekaligus juga akan membuka lembar baru kehidupan kami di tanah air.

Berlalunya waktu tanpa terasa dan berputarnya awal dan akhir sering membuat kita tidak dapat mengapresiasi apa yang kita dapatkan saat ini. Kita sering menghadapi hidup ini ‘take for granted’. Jarang sekali kita benar-benar menghayati awal kegiatan, pekerjaan dan penugasaan kita, baru setelah kegiatan, pekerjaan dan penugasan tersebut akan berakhir atau telah berakhir kita mulai berpikir ‘…wah…selama ini saya sudah melakukan apa saja ya…?!’

Nampaknya sudah saatnya kita benar-benar mengapresiasi apapun yang kita lakukan, dimanapun kita berada. Kita harus memastikan isi dari awalan dan akhiran kita dalam hidup ini agar benar-benar ‘worthy’, tidak saja bagi kita sendiri tetapi terutama bagi lingkungan di sekitar kita, karena hidup ini juga berawal dan berakhir, hidup ini tidak selamanya, pekerjaan, harta, keluarga dan lingkungan tidak abadi. Pada akhirnya kita semua akan berhenti di satu titik.

Tapi di lain pihak saya jadi teringat ucapan almarhum ayahanda saya, beliau selalu berkata, ‘…jangan takut kehilangan kesempatan, jangan takut kehabisan waktu, karena semua yang berlalu dapat datang lagi dalam bentuk yang lain…semua tergantung tekad dan kemauan kita…’

Manusia memang selalu merindukan opening dan membenci closure tetapi saya selalu percaya : ‘thanks God for endings, because it opens new beginnings’.

*Oleh : Listiana Operananta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s