Tanah Airku

Tanah Airku tidak kulupakan,
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai, Engkau kuhargai

            Walaupun banyak negri kujalani
            Yang mahsyur permai di kata orang
            Tetapi kampung dan rumahku
            Disanalah ku rasa senang
            Tanahku tak kulupakan, Engkau kubanggakan

Rasa haru menyelimuti hati setiap kali saya mendengar lagu ini dilantunkan.  Sejak dulu saya suka sekali pada lagu ini. Tetapi kini, berada jauh dari tanah air membuat syair lagu ini menjadi lebih bermakna. Namun ternyata bukan hanya itu.  Tinggal jauh di negeri orang membukakan penglihatan yang berbeda terhadap tanah air.  Melihat dari jauh, berada di luar dari apa yang dilihat membantu saya menyadari seperti apakah negeri kita dilihat oleh orang lain, bagaimana negeri kita di antara negeri lainnya.

Berbagai situasi tanah air muncul di benak.  Mendapat kesempatan mengunjungi beberapa negeri lain justru menyadarkan saya potensi kekayaan negeri kita yang luar biasa. Kekayaan alamnya, kekayaan khasanah budayanya, sumber daya manusianya…… Tiba-tiba saya teringat pada anak-anak jalanan yang banyak berkeliaran di jalan mencari penghidupan. Di sudut yang lain saya melihat dengan bangga anak-anak bangsa kita yang mengukir prestasi di bidang olah raga dan ilmu pengetahuan. Lalu berkelebat bayangan sekelompok buruh kasar menanti pekerjaan di sudut jalan, dengan pendidikan terbatas dan skill yang rendah namun tetap bersemangat menyambung kehidupan……   Bayangan harapan dan keprihatinan yang ada di tanah air silih berganti muncul dalam benak.

Kemudian beberapa pertanyaan mengusik. Rasa di hati tersulut oleh promosi wisata negara lain. Tanah air saya yang lebih indah, lebih cantik, lebih menarik, lebih kaya……., tetapi kenapa pariwisatanya tidak lebih maju dari negara-negara lain? Potensi sumber alam yang besar, beragam, sangat kaya, bagaimanakan mengoptimalkan pengelolaannya?  Tiba-tiba saya tergugah, tertuduh oleh pertanyaan pada diri sendiri : apa yang sudah saya lakukan untuk tanah air saya?

Lamat-lamat lagu padamu negeri bergaung di telinga.  Membawa ingatan kepada para pendahulu bangsa yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk tanah air Indonesia. Dengan kesadaran mereka melakukan bakti yang mempertaruhkan nyawa demi negara.    Sebuah excuse muncul di benak. Dalam kondisi memperjuangkan kemerdekaan, tentulah seluruh anak bangsa akan terarus untuk berjuang.  Tapi, betulkah demikian?  Haruskah keinginan untuk “berbuat” bagi bangsa didorong oleh suatu situasi yang memaksa?

Kemudian saya teringat reaksi bangsa Korea Selatan yang meminjamkan (perhiasan) logam mulia milik pribadinya untuk mengumpulkan devisa bagi negara saat menghadapi krisis ekonomi hampir sepuluh tahun lalu. Bangsa lain yang mengalami situasi yang sama bereaksi dengan cara yang berbeda-beda.  Berarti, suatu bangsa bebas untuk  menentukan sikap di dalam menghadapi situasi, yang akan menentukan nasib bangsa itu nantinya.  Bedanya dengan situasi pribadi, di dalam sebuah bangsa, apalagi bangsa kita yang sangat besar ini, terdiri dari ratusan juta pikiran, ratusan juta sikap. Tetapi bukankah itu berarti juga : ratusan juta potensi?

Lalu saya teringat pada beberapa kisah yang menginspirasi. Yang satu adalah seorang warga masyarakat yang senang tanaman, dapat menggerakkan masyarakat desanya mengubah “kampung kota” tempat tinggal mereka di tengah ibu kota menjadi permukiman yang “sangat layak”.  Yang satunya lagi seorang seniman gamelan dari sebuah desa di Bali, telah membidani lahirnya kelompok-kelompok penabuh gamelan asing di berbagai belahan dunia lain.  Yang lain adalah saudara kembar yang mencurahkan perhatiannya bagi pendidikan anak-anak jalanan di kolong jalan tol. Ada lagi seorang teman yang lulus PhD dengan cum laude di negeri orang, malang melintang mancanegara menjadi pembicara yang mumpuni dan disegani di bidangnya. Yang lain lagi serombongan TKI yang bekerja di luar negeri, dengan sumber daya yang terbatas memberanikan diri mengadu nasib di negeri orang, yang mungkin tidak sadar bahwa mereka telah menyumbangkan devisa bagi negara.

Sayup-sayup saya mendengar lagu tanah airku mengalun lagi.  Kali ini dinyanyikan rombongan anak-anak yang berlatih aubade untuk tujuh belasan. Sekali lagi saya tersadar.  Sebentar lagi akan memperingati dirgahayu kemerdekaan Indonesia yang ke 61. Kembali saya bertanya pada diri saya, apa yang bisa saya sumbangkan untuk tanah air tercinta?

*Oleh: Pratiwi Herman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s