Bapak Marty Natalegawa

Banyak orang belum mengetahui nama lengkap beliau, Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa. Kesan pertama yang tertangkap dari penampilan beliau adalah pintar, energik, namun low profile. 

Sejak Desember 2005, Bapak Marty menduduki posisi sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Kerajaan Inggris Raya merangkap Irlandia Utara. Menamatkan high school di negara Inggris, menyelesaikan pendidikan Strata Satu dari London School of Economic and Political Science, University of London dan master of philosophy di Cambridge University, tentu saja membuat beliau sangat tidak asing dengan negara Ratu Elizabeth ini. Selanjutnya gelar Doctor of Philosophy in International Relation diraihnya di Australian National University. Pada saat bersekolah di LSE, beliau bertemu dan jatuh cinta dengan Ibu Sranya dan kemudian menikah. Dari perkawinan mereka, pasangan ini dikarunia tiga orang putera-puteri : Annisa, Anantha dan Andreyka, yang pada saat ini bersekolah di London.

Pria yang menjadi duta besar RI termuda ini mengaku semenjak kecil memang mempunyai cita-cita menjadi duta yang mewakili Indonesia di luar negeri. “Pada saat berusia 12 tahun, saat sekolah saya mengadakan field trip ke  British Museum, waktu luang menjelang ke stasiun kereta api pada saat teman saya bermain-main, justru saya  gunakan untuk mengunjungi Kantor Amnesti International  untuk memperoleh informasi tentang Indonesia” kenangnya.

Lama hidup di luar negeri ternyata menumbuhkan rasa kebangsaan yang besar, begitulah pendapat beliau sesuai dengan pengalaman pribadinya. Menurut Bapak Marty, dengan berada di luar negeri rasa kebangsaan kita akan lebih peka. Semuanya bermula dari pengetahuan dan pemahaman akan sejarah bangsa serta penghormatan kita terhadap pengorbanan para pahlawan nasional. Meski berada jauh, kita tetap peduli akan kondisi dan perkembangan yang terjadi di negara kita, yang mana informasi ini dengan sangat mudah dapat diakses berkat perkembangan teknologi dewasa ini.

Bapak Marty menekankan yang menjadi pendorong keberhasilan seseorang adalah kerja keras. “There is no short cut, semua harus berdasarkan kerja keras. Untuk meraih yang biasa-biasa saja kita harus bekerja keras, apa lagi jika kita menginginkan hasil yang lebih baik lagi. Di samping itu, perlu diingat bahwa dalam bekerja kita selalu berada di dalam suatu sistem, sehingga sangat penting adanya kemampuan  bekerja sama dengan orang lain. Untuk itu diperlukan kerendahan hati. Pada akhirnya jika keberhasilan itu telah diraih, janganlah kita cepat terbuai” ujar beliau pada saat diminta menjelaskan apa yang menjadi kunci keberhasilan beliau.

Mengenai peran spouse di luar negeri khususnya dalam profesi diplomacy, menurut beliau merupakan suatu unit dengan pasangannya yang menuntut suatu kerjasama. “Dharma Wanita Persatuan merupakan invaluable partner bagi KBRI dan bagian yang tidak terpisahkan dalam usaha diplomasi KBRI. Saya melihat upaya yang telah dilakukan DWP KBRI London seperti pertunjukan gamelan dan upaya penggalangan dana misalnya, efektif dalam menjalankan misi diplomasi KBRI” ujar beliau. Beliau juga menambahkan pendapatnya bahwa peran spouse dan DWP ini tidak ternilai.

Berkali-kali beliau menekankan tentang pentingnya empowerment. Menurut beliau tinggal di luar negeri adalah suatu privileges, sehingga patut disyukuri kesempatan langka ini dengan memanfaatkan keberadaan di Negara Inggris ini semaksimal mungkin, melalui penambahan pengetahuan sebanyak-banyaknya baik untuk diri sendiri maupun anggota keluarga. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah berinteraksi dengan masyarakat sekitar kita agar memiliki jaringan sosial yang lebih luas lagi. Namun rasa kebersamaan antar sesama bangsa juga sangat penting yang dapat ditumbuhkan melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama.

Beliau juga menambahkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Jangan pasrah terhadap suatu keadaan dan merasa tidak mungkin membuat perubahan kearah perbaikan. “Saya selalu menerapkan prinsip bahwa everyone can make a difference, you just have to ask your self what you can contribute. Seperti argometer dimana setiap pagi hari dimulai dengan zero. When you get up and start a day, you haven’t achieve anything. Forget about what you have achieved yesterday. Anda harus mengakhiri hari itu dengan mengatakan bahwa : “I made a difference today by doing something. Sehingga kita selalu ada keinginan untuk lebih maju setiap hari”, ujar beliau menjelaskan prinsip hidupnya yang selalu berusaha ditularkannya pada orang lain. Beliau menambahkan, “Saya juga menerapkan open door policy, sikap keterbukaan dengan masyarakat sekitar maupun masyarakat Indonesia sendiri, sehingga tidak membatasi diri dalam berkarya dan berinteraksi”.

Dengan kedudukan sebagai orang Indonesia nomor satu di Inggris, bisa kita bayangkan betapa padatnya jadual kerja Bapak Marty. Pada akhir pekan dimanfaatkan oleh beliau sebaik-baiknya untuk kebersamaan keluarga. “Buat saya bukan kuantitas waktu yang penting, namun qualitative time dari kebersamaan itu. Saya berupaya memanfaatkan setiap waktu yang dimiliki sebaik mungkin. Di Inggris pilihan kegiatan yang dapat dilakukan bersama keluarga sangat bervariasi. Biasanya saya mengantar anak-anak ke tempat yang mereka pilih. Jika tidak, kami mengunjungi museum atau jalan-jalan ke luar kota. Namun yang sangat penting adalah situasi kebersamaan itu sendiri”, papar beliau.

Berjalan kaki adalah hal yang paling disenangi oleh Bapak Marty. “Sayangnya , di Jakarta pedestrian ini hampir hilang. Berjalan kaki dengan menggunakan pakaian lengkap seperti ini pada siang bolong di Jakarta sepertinya tidak lazim . Padahal dengan berjalan kaki, it clears your mind”, ujarnya.

Di waktu luang pria yang dikenal luas menjadi  Juru Bicara Deplu 2003 – 2005 ini   mempunyai hobi  menonton pertandingan bola. “Liverpool adalah club favorit saya sejak kecil, yang ternyata juga menjadi kesayangan anak-anak”. Selain itu Bapak Marty menyenangi mobil tua atau mobil antik “Tapi karena tidak ada dana, keinginan memilikinya belum tercapai”, ujarnya sambil tertawa.

Sebelum mengakhiri wawancara ini, beliau menitipkan pesan untuk pembaca Buletin DWP KBRI London akan pentingnya empowerment sebagai pribadi maupun sebagai anggota DWP melalui peningkatan keahlian, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih baik lagi. Semoga kita semua bisa mepelajari falsafah hidup dan mengikuti keberhasilan Bapak Marty.

*Oleh: Dara Arief. (Pewawancara: Dara Arief dan Henny Iroth)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s