Sang Waktu

Time is a measure of our existence.
Time never stands still.
Time moves on.
Time never retraces its steps.

Time is continuous.
Time can never stop.
Time can heal wounds.
Time can bring death.

You can kill time.
You can take time out.
You can keep time.
You can be behind time.

                                   (Sid John Gardner)

Semenjak kita kecil, sering kita dengar nasehat bijak orang tua yang mengatakan “Manfaatkanlah waktumu sebaik-baiknya agar tidak menyesal nanti”. Klise memang, tapi sebenarnya kalau kita mencoba mendalami sangat besar maknanya. Seperti sepenggal puisi di atas, waktu akan berjalan terus walau tanpa kita kehendaki. Kita hanya punya pilihan, apa yang akan kita lakukan di dalam mengisi waktu tersebut, apakah kita hanya duduk-duduk berpangku tangan atau melakukan sesuatu yang memberikan manfaat bagi diri kita sendiri dan lingkungan pengaruh kita.

Jika saya melihat foto dan rekaman video anak-anak ketika mereka kecil, ada perasaan sangat rindu di dalam hati, rindu pada mereka yang kecil, gembil, manja, dengan bicara yang cadel dan gaya berjalan selangkah-selangkah. Saya merasa seolah-olah ‘kehilangan’ mereka saat ini dan tidak akan pernah berjumpa kembali, walau sekarang secara fisik mereka masih ada di sisi saya. Tapi ada perasaan bahwa  mereka sekarang ‘bukanlah’ mereka yang dahulu, mereka bukanlah manusia yang sama.

Benar kata Anda. Saya sebenarnya memang tidak kehilangan mereka (Thank’s God). Yang pergi dari saya adalah sang waktu. Sekian tahun waktu itu telah berlari dari saya. Apa yang telah saya lakukan dalam waktu-waktu itu? Apakah saya telah melakukan sesuatu yang memberikan banyak manfaat pada mereka pada di saat golden age mereka, dimana kata para ahli pada lima tahun pertama usia seseorang ia mengalami perkembangan yang lebih besar dibandingkan sisa umurnya? Apa yang telah mereka peroleh dalam sekian tahun tersebut yang merupakan kontribusi saya secara langsung?

Ini hanyalah satu contoh kecil bagaimana kita memanfaatkan waktu atau sebaliknya membiarkan waktu itu berlalu begitu saja. Apa yang telah kita lakukan pada saat kita masih muda dan perkasa, yang konsekuensinya kita rasakan sekarang? Kita tidak akan pernah muda kembali dan kembali kuat seperti beberapa tahun silam.   Begitu suatu waktu berlalu, dia tidak akan pernah kembali.Yang tersisa adalah jejak-jejaknya berupa produk dari apa yang telah kita lakukan. Bahkan di dalam Al Quran dipesankan di dalam surat Al Ashr bahwa betapa meruginya orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya.

Kita beruntung masih diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk mengisi waktu sekarang dan (insya Allah) waktu-waktu mendatang. Pilihan dalam mengisi waktu tersebut, sepenuhnya ada di tangan kita. Tentunya konsekuensi dari penggunaan waktu yang kurang bijaksana sesuai dengan nasehat orang tua yang saya tulis di atas -yaitu berupa penyesalan- sangat sakit rasanya dan tentu saja kita tidak mau itu terjadi.

*Oleh: Dara Arief 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s